Kelompok Hamas Palestina secara resmi mengumumkan pembubaran pemerintahan di Jalur Gaza pada Senin (6/7), setelah memerintah selama hampir dua dekade.

Pembubaran ini disebut akan membuka jalan bagi komite teknokrat untuk menerapkan pemerintahan sipil di wilayah tersebut.

>>> Perusahaan Kaesang Terlilit Kredit Macet, Utang Bank Tembus Rp2,8 T

Kepala komite darurat pemerintah, Mohammed Al Farra, mengajukan pengunduran diri dan mengumumkan pembubaran Komite Darurat Pemerintah.

"Sebagai demonstrasi keseriusan langkah-langkah ini, dalam pelaksanaan kesepakatan yang telah disepakati, dan untuk memfasilitasi proses transisi administratif," demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza, seperti dilansir Al Jazeera.

Seorang pejabat Hamas mengatakan kelompok itu menginginkan masuknya Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) dengan cepat.

Juru bicara Hamas Hazem Qassem menyatakan, "Hamas telah mengambil langkah baru dengan tidak lagi bertanggung jawab atas Jalur Gaza, untuk menghilangkan dalih apa pun bagi pendudukan (Israel), yang terus melakukan agresi dan pemusnahan."

"Kami berharap (NCAG) segera hadir, dan Hamas menegaskan kesiapannya untuk menyerahkan tanggung jawab pemerintahan kepada komite tersebut untuk memastikan keberhasilannya," imbuh Qassem.

Kepala NCAG, Ali Shaath, menyambut baik pengumuman Hamas.

>>> Hakim PN Jaksel Kabulkan Sebagian Praperadilan Roy Suryo

"Kami menegaskan bahwa (NCAG) sepenuhnya siap untuk memikul tanggung jawab nasionalnya segera setelah sumber daya dan kemampuan yang diperlukan tersedia," tulis Shaath di media sosial.

NCAG diketahui telah bermarkas di luar Gaza selama berbulan-bulan, karena Israel berat hati mengizinkan komite itu masuk ke Jalur Gaza.

Sebelumnya, stasiun televisi pemerintah Israel melaporkan bahwa seorang pejabat senior Hamas, Khalil Al Hayya, baru-baru ini bertemu dengan seorang penasihat Presiden AS Donald Trump di Qatar.

Laporan ini muncul di tengah perdebatan yang sedang berlangsung di Israel soal hasil perang di Gaza dan kemampuan Hamas di masa depan.

Komentator Israel, Avi Issacharoff, berpendapat meski hampir tiga tahun perang, Hamas sebenarnya masih mempertahankan kendali politik atas Gaza dan sedang membangun kembali kemampuan militernya.

>>> Pangeran Harry Tak Diizinkan Menginap di Istana Buckingham Selama Kunjungan ke London

Issacharoff menulis bahwa Israel memandang perlawanan mereka ke Hamas adalah hal yang perlu, karena mereka meyakini sayap militer kelompok itu mendapat manfaat dari pendapatan pajak dan sumber daya kemanusiaan yang masuk ke Gaza.