Meta Diduga Pakai Akun Palsu untuk Ganggu Model AI Pesaing
Para kontraktor mencatat setiap respons dari chatbot tersebut secara mendetail ke dalam spreadsheet. Namun demikian, belum jelas apa yang sebenarnya dilakukan Meta dengan tumpukan data tersebut.
>>> Rukia Bankai di Serial Bleach dan Fakta-Fakta Menariknya
Dokumen internal Covalen hanya menyebut proyek ini sebagai 'tolok ukur keamanan AI yang komprehensif' untuk menghasilkan 'kumpulan data krusial demi kepatuhan dan perbandingan model'.
Bikin Pekerja Trauma
Kasus ini menambah panjang daftar bagaimana Meta melimpahkan pekerjaan di balik layar yang traumatis kepada pihak ketiga dengan dalih 'keamanan'.
Sebelumnya pada 2020, Meta sempat merampungkan gugatan hukum dengan para moderator konten Facebook yang mengaku trauma setelah dipaksa menonton video pembunuhan, penyiksaan, dan pelecehan.
Belum lagi kasus pekerja kontrak yang mengeluh dipaksa memeriksa rekaman sensitif dari kacamata pintar Ray-Ban AI Meta.
Para pekerja yang ditugaskan membuat prompt mengerikan untuk AI pesaing ini mengaku trauma.
"Selama kerja di sini, saya sudah melihat banyak hal yang harusnya tidak perlu saya lihat," kata salah seorang kontraktor, melansir Futurism, Sabtu (4/7).
"Semua orang yang saya kenal di proyek ini benar-benar syok dengan teks yang disuruh untuk diuji.
Kami bahkan berpikir, 'kita beneran tidak akan kena masalah kalau melakukan hal ini?'" ujar dia.
Persaingan Tak Sehat
Merespons hal ini, Meta menjelaskan bahwa pengujian tersebut merupakan praktik standar industri untuk mengukur tingkat keamanan model AI.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh Rumman Chowdhury, CEO Humane Intelligence PBC, sebuah organisasi nirlaba pengembangan AI yang bertanggung jawab.
Menurut dia, Meta justru sudah keluar batas norma.
"Membuat proyek skala besar selama berbulan-bulan yang sengaja dirancang untuk merusak aturan sistem secara sistematis, lewat akun palsu yang menyamar sebagai anak-anak, itu sudah di luar batas apa yang disebut evaluasi," kata Chowdhury.
Ia juga menyoroti tindakan Meta yang merahasiakan proyek ini dari pesaingnya dan tidak membagikan hasilnya ke publik.
>>> Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Kesehatan Global di Jakarta Timur
Menurut dia, ini merupakan contoh nyata zona abu-abu dalam tata kelola teknologi, ketika isu keamanan sengaja dijadikan kedok untuk menutupi praktik persaingan usaha yang tidak sehat.
Update Terbaru
Drive By Shooting di Miramar Tewaskan Influencer Media Sosial
Selasa / 07-07-2026, 15:08 WIB
Aparat Gagalkan Penyelundupan 1 Kg Sabu oleh Kurir Aceh di Bandara Silangit
Selasa / 07-07-2026, 15:08 WIB
Cara Mendapatkan Bantuan Pangan Beras 10 Kg untuk KPM Desil 1-4 Tahun 2026
Selasa / 07-07-2026, 15:07 WIB
Respons Masukan Masyarakat, Direksi Bulog Tinjau Gudang Karawang
Selasa / 07-07-2026, 15:07 WIB
Polri Tetapkan 32 Tersangka Haji Ilegal, Kerugian Korban Rp116,7 Miliar
Selasa / 07-07-2026, 15:07 WIB
735 Anak PMI di Malaysia Lanjutkan SMA di Indonesia
Selasa / 07-07-2026, 15:07 WIB
MSCI Masih Bekukan Saham RI, Tak Ada Tambahan Emiten di Indeks Global
Selasa / 07-07-2026, 15:07 WIB
Sylvester Stallone Perjuangkan Warisan Film di Usia 80 Tahun
Selasa / 07-07-2026, 15:03 WIB
Modi Temui Prabowo, RI-India Sepakat Kerja Sama Nuklir dan Energi Surya
Selasa / 07-07-2026, 15:03 WIB
Ada Kafein dalam Cokelat? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Selasa / 07-07-2026, 15:03 WIB
Heliot Ramos Bawa Giants Hancurkan Blue Jays 10-1
Selasa / 07-07-2026, 15:01 WIB
Hujan Lebat Picu Peringatan Banjir Bandang di Wilayah Tri-State
Selasa / 07-07-2026, 15:01 WIB
Ysaye International Music Competition Gelar Final di Korea untuk Pertama Kalinya
Selasa / 07-07-2026, 15:00 WIB
Pimpinan BGN dan KPK Bahas Rencana Aksi Tindak Lanjut 10 Temuan MBG
Selasa / 07-07-2026, 15:00 WIB







