Perubahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk interaksi pasang surut dengan Bulan, pergerakan di dalam Bumi, sirkulasi atmosfer dan laut, gempa bumi, serta perubahan distribusi es dan air.

Selama periode yang sangat panjang, interaksi pasang surut dengan Bulan secara bertahap memperlambat rotasi Bumi.

Namun, dalam skala waktu yang lebih pendek, planet ini bisa berputar sedikit lebih cepat atau lebih lambat.

Variasi kecil inilah yang menyebabkan para penjaga waktu kadang-kadang menambahkan detik kabisat ke Waktu Universal Terkoordinasi (UTC).

Sejak 1972, 27 detik kabisat positif telah ditambahkan ke UTC, yang terbaru pada 31 Desember 2016.

Beberapa peneliti menyarankan bahwa detik kabisat negatif mungkin diperlukan sekitar tahun 2029, tetapi kemungkinan itu belum dijadwalkan sebagai perubahan waktu resmi.

Intinya, variasi ini sangat kecil, diukur dalam milidetik, bukan mendekati penghentian mendadak.

Rotasi Bumi terus dipantau, tetapi tidak ada skenario realistis di mana planet ini tiba-tiba berhenti. Jika Bumi benar-benar berhenti berputar, konsekuensinya akan sangat dahsyat.

>>> Mencukur atau Mencabut Bulu Ketiak: Mana yang Lebih Aman?

Namun di dunia nyata, rotasi planet kita hanya berubah dalam jumlah yang sangat kecil, dan tidak ada alasan untuk takut akan penghentian mendadak.