Risiko distribusi minyak juga belum sepenuhnya mereda.

Iran pada Kamis (2/7/2026) memperingatkan seluruh kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz untuk menggunakan rute yang telah ditetapkan atau menghadapi “tindakan tegas”.

Dampak pada Harga Minyak dan Indonesia

Stockbit Investment Research menilai tambahan pasokan dari kenaikan produksi OPEC+ dapat mempercepat normalisasi harga minyak pascagangguan pasokan akibat konflik di Selat Hormuz.

Meski arus kapal tanker belum pulih ke level sebelum perang, tambahan pasokan dapat semakin mendukung normalisasi harga.

Stockbit mencatat rata-rata harga minyak Brent sejak awal 2026 hingga 3 Juli 2026 berada di kisaran US$87 per barel.

Jika harga Brent stabil pada US$70 per barel hingga akhir tahun, rata-rata harga Brent sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran US$79 per barel.

Level tersebut masih berada di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel.

Namun, Stockbit menilai tekanan terhadap fiskal akibat lonjakan harga minyak mulai mereda seiring normalisasi pasokan global.

Bagi Indonesia, penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan pada impor migas. Lonjakan impor migas sebelumnya menjadi salah satu faktor yang mendorong defisit neraca perdagangan pada Mei 2026.

>>> Portronics Luncurkan CineArc 200W 5.1 Home Theatre dengan HDMI ARC

Dengan harga minyak yang lebih rendah, nilai impor migas Indonesia berpotensi menurun. Hal ini dapat mengurangi defisit dan mendukung pemulihan surplus neraca perdagangan.