OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bpd) mulai Agustus 2026.

Keputusan pada Minggu (5/7/2026) itu menjadi kenaikan target produksi selama lima bulan berturut-turut.

>>> OJK Ubah Aturan SLIK, Tunggakan di Bawah Rp1 Juta Tak Lagi Jadi Penghalang KPR

Langkah ini berpotensi menambah pasokan minyak global di tengah pemulihan ekspor melalui Selat Hormuz. Kenaikan target produksi terjadi setelah pasokan minyak negara-negara OPEC mulai pulih pada Juni 2026.

Survei Reuters mencatat produksi minyak OPEC meningkat 3,3 juta bpd secara bulanan menjadi 19,43 juta bpd.

Peningkatan didorong kembali beroperasinya sumur-sumur minyak di negara-negara Teluk yang sebelumnya ditutup akibat kapasitas penyimpanan penuh selama Selat Hormuz ditutup.

Pemulihan pasokan diperkirakan masih berlangsung secara bertahap.

Analisis Wood Mackenzie pada 15 Juni 2026 memperkirakan produksi dari sumur minyak yang terdampak penutupan Selat Hormuz membutuhkan sekitar tiga bulan untuk kembali ke sekitar 70% dari tingkat produksi sebelum perang.

Produksi diperkirakan baru dapat mencapai sekitar 90% dari level sebelum perang dalam enam bulan.

International Energy Agency (IEA) mencatat gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz sempat menghentikan lebih dari 14 juta bpd produksi minyak global, setara sekitar 14% dari permintaan minyak dunia.

Meski produksi mulai pulih, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz belum kembali ke level normal.

Data MarineTraffic menunjukkan hanya 38 kapal melintasi Selat Hormuz pada 2 Juli 2026, turun dari 48 kapal pada 1 Juli 2026 dan masih jauh di bawah rata-rata sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik Amerika Serikat dan Iran.

>>> iQOO 16 Batal Meluncur di India? Ini Alasannya