Untuk cairan pendingin seperti glikol, setiap pusat data harus memompa lebih dari 150.000 pon per detik—setara mengosongkan kolam renang Olimpiade dalam 40 detik.

>>> Casing Kecil Ini Ubah Kartrid Switch 2 Jadi Game Boy

Starcloud menargetkan kapasitas komputasi lima gigawatt.

Setiap pusat data, termasuk panel surya raksasa, akan menutupi area seluas 1,6 mil persegi—hampir 5.000 kali luas panel Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Massanya bisa membengkak karena perangkat pendingin.

“Bahkan mengabaikan pompa, pendingin, pelindung radiasi, bahan bakar, roda inersia, struktur dan lainnya, stasiun Starcloud melebihi 113 juta kilogram,” kata McManus.

Itu “lebih dari kapal induk yang mengorbit,” lebih dari enam kali total massa yang pernah diluncurkan ke luar angkasa.

Luas permukaan yang besar membuat satelit rentan terhadap puing-puing antariksa. Partikel kecil pun bisa melubangi panel, memerlukan perbaikan mahal yang rumit karena harus ke luar angkasa.

SpaceX sendiri mengaku jaringan Starlink harus melakukan 300.000 manuver hindari tabrakan pada 2025 saja.

Selain itu, partikel terionisasi yang melewati satelit dapat merusak transistor atau mengubah bit informasi, menyebabkan halusinasi AI besar-besaran tanpa perangkat lunak pengecek hasil.

Komputer di ISS saat ini harus menjalankan kalkulasi redundan untuk menyaring data yang rusak.

Biaya proyek Starcloud juga dinilai tidak realistis dan terlalu optimistis terhadap berat dan biaya peluncuran. Perawatan jaringan besar itu sendiri akan sangat mahal.

Umur chip AI saat ini hanya dua hingga empat tahun—dan itu di Bumi, di mana degradasi lebih rendah dibanding lingkungan ekstrem luar angkasa.

>>> Perbandingan Versi GTA 6: Edisi Standar, Ultimate, dan Fisik

McManus menyimpulkan bahwa Starcloud hanyalah konsep awal yang terburu-buru untuk menggalang dana dan melanjutkan proyek. “Di dunia teknologi yang terus berkembang, penggerak pertama mendapat imbalan besar,” katanya.