Permintaan daya komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) melonjak drastis.

Raksasa teknologi berkomitmen menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun pusat data besar, namun jaringan listrik yang menua dan resistensi publik membuat ekspansi ini sulit.

>>> Case Mini Ini Ubah Kartrid Switch 2 Jadi Mirip Game Boy

Sebagai alternatif, sejumlah perusahaan AI—termasuk SpaceX milik Elon Musk—berencana memindahkan pusat data ke orbit Bumi.

Mereka mengklaim pusat data orbital akan memanen energi matahari 24 jam dan mengubahnya menjadi daya komputasi.

Namun, konsensus para ahli menyebut rencana itu bukan hanya terlalu ambisius, tetapi juga membutuhkan revolusi teknologi untuk mengatasi tantangan teknik yang nyata.

Kritik Pedas terhadap Starcloud

Video kritik tajam dari insinyur aeronautika Irlandia Brian McManus (kanal YouTube Real Engineering) dan publikasi IEEE Spectrum membahas banyak masalah Starcloud.

Starcloud adalah perusahaan Y Combinator yang mengumpulkan dana 170 juta dolar AS tahun ini untuk mengembangkan wahana pusat data dengan bantuan SpaceX.

McManus menilai whitepaper proyek itu lebih terlihat seperti dibuat oleh AI daripada tim ahli manusia.

“Sepertinya siapa pun dengan render dan whitepaper yang ditulis oleh seseorang yang dibuai AI yang terlalu setuju bisa mendapatkan pendanaan VC sekarang,” ujarnya.

“Para miliarder akan mencoba menutupi mata Anda dan meyakinkan bahwa teknologi ini masuk akal, tapi kenyataannya, teknologi ini bodoh,” tambah McManus.

Tantangan Teknik yang Berat

Tantangan teknik untuk membangun konstelasi pusat data raksasa di luar angkasa sangat banyak.

Menjaga perangkat keras AI tetap dingin saat dipacu hingga batasnya sudah sulit di Bumi, apalagi di ruang hampa udara.

Di luar angkasa, panas tidak bisa hilang begitu saja, sehingga diperlukan jaringan pipa pendingin yang ekstensif.