Dibandingkan magnet sejenis untuk proyek reaktor internasional (ITER), versi China berukuran 1,3 kali lebih besar dan memiliki kapasitas penyimpanan energi tiga kali lipat lebih kuat.

Ini menjadikannya magnet superkonduktor reaktor fusi terbesar di dunia saat ini.

Nantinya, 16 magnet serupa akan dirangkai bersama untuk menciptakan medan magnet melingkar yang utuh.

Komponen kedua adalah kumparan solenoid pusat yang bertugas ganda: memicu plasma hingga membentuk bola api raksasa sekaligus mengendalikan posisinya selama proses berlangsung.

Tanpa komponen ini, bola api tidak akan terbentuk atau menjadi liar tak terkendali.

Data pengujian menunjukkan kumparan ini mampu mengalirkan arus listrik secara stabil sebesar 60 kiloampere dan menyimpan energi sebesar 6,03 megajoule.

Keberhasilan ini membuka jalan bagi reaksi fusi jangka panjang yang stabil untuk menghasilkan pasokan energi konsisten.

Wakil Direktur ASIPP Qin Jinggang menyebutkan bahwa arus operasional normal alat ini (46,5 kiloampere) jauh berlipat ganda dibanding kapasitas EAST sebelumnya.

Performa komponen ini menjadi penentu utama apakah teknologi 'Matahari buatan' naik kelas dari eksperimen laboratorium menjadi pembangkit listrik praktis.

>>> Apakah Sepatu Trail Run Bisa untuk Running Biasa? Ini Jawabannya

"Magnet solenoida pusat beroperasi dalam kondisi paling kompleks dibandingkan magnet mana pun di dalam reaktor, dan kinerjanya secara langsung menentukan apakah perangkat fusi dapat dinyalakan dengan sukses dan dipertahankan secara stabil," kata Qin, melansir SCMP.