Sekitar 25 tahun lalu, Steve Ballmer, CEO Microsoft saat itu, melontarkan pernyataan kontroversial yang menyebut Linux sebagai kanker.

Kini, kondisi berbalik 180 derajat.

>>> Impor Pertanian Turun Rp41 T, Tapi RI Masih Belanja dari Luar Rp300 T

Pada ajang Build 2026, Microsoft secara resmi menghadirkan Azure Linux 4.0, sebuah distribusi Linux open source yang tersedia gratis untuk publik.

Distro ini bukan proyek kecil. Selama beberapa tahun terakhir, Azure Linux sudah digunakan untuk menjalankan berbagai layanan internal Microsoft di Azure.

Apa Itu Azure Linux?

Linux adalah kernel, inti sistem operasi yang mengelola hardware dan memori. Distribusi Linux (distro) adalah paket lengkap berisi kernel, package manager, utilitas sistem, dan lainnya.

Azure Linux adalah distro buatan Microsoft yang dibangun menggunakan Fedora sebagai basis, kemudian dimodifikasi untuk workload cloud dan container di Azure.

Awalnya, Microsoft memperkenalkan proyek internal bernama CBL-Mariner pada 2019 sebagai sistem operasi ringan untuk layanan Azure.

Pada 2024, namanya diubah menjadi Azure Linux, dan di Build 2026 aksesnya dibuka lebih luas.

Bukan Pengganti Ubuntu

Azure Linux tidak memiliki desktop environment dan tidak menyediakan GUI. Instalasi dasarnya sangat minimal karena ditujukan sebagai sistem operasi server yang ringan, aman, dan stabil.

Ukuran instalasinya jauh lebih kecil dibanding distro Linux desktop pada umumnya.

Alasan Microsoft membuat Linux sendiri sederhana: sebagian besar workload di Azure justru menggunakan Linux, bukan Windows Server.

>>> Pakar Ungkap Penyebab Eropa Dihantam Gelombang Panas Terparah

Dengan distro sendiri, Microsoft dapat mengontrol rantai distribusi, memberikan update keamanan lebih cepat, dan mengoptimalkan performa Azure.

Strategi ini bukan hal baru. Amazon memiliki Amazon Linux, Google memiliki Container-Optimized OS.