Fasilitas ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, akan resmi beroperasi pada akhir Juli 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan kepastian ini setelah melaporkan evaluasi program hilirisasi kepada Presiden Prabowo.

>>> Yankees Ubah Susunan Pemain untuk Laga Final Melawan Red Sox

"Program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil hasil kerja sama antara CATL dan Antam sudah selesai. Insyaallah akan diresmikan nanti di akhir Juli," ujar Bahlil.

Pabrik ini merupakan hasil kolaborasi antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam), konsorsium BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium perusahaan China: CATL, Brunp, dan Lygend (CBL).

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengungkapkan bahwa pabrikan otomotif Jepang telah dipastikan menjadi konsumen utama baterai yang diproduksi di pabrik ini.

>>> Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Cek Jam Pertandingannya

IBC memilih fokus pada teknologi baterai Nickel-Manganese-Cobalt (NMC), berbeda dengan dominasi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) di pasar EV Indonesia saat ini.

Menurut Aditya, permintaan pasar terhadap katoda NMC terus meningkat seiring pertumbuhan pasar baterai global. IBC optimistis baterai berbasis nikel ini mampu bersaing secara global.

Mayoritas mobil listrik merek China yang dijual di Indonesia saat ini menggunakan baterai LFP, termasuk BYD, Jaecoo, Aion, Denza, Geely, GWM, Chery, DFSK, MG, Polytron, Seres, Nissan, Toyota, VinFast, Wuling, Xpeng, dan Changan.

>>> Cara Cek Bansos PKH Juli 2026 Secara Online Lewat HP

Peresmian pabrik di Karawang ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.