Label "ramah lingkungan" selama ini dianggap sebagai penanda bahwa suatu produk lebih baik bagi bumi.

Di industri fashion, pendekatan seperti bahan daur ulang, penyewaan pakaian, dan ekonomi sirkular gencar dipromosikan untuk mengurangi limbah dan emisi.

>>> Lee Jun Ho Ajak Masyarakat Indonesia Dukung Kampanye Chosen, Program Unik di Mana Anak Pilih Sponsor Sendiri

Namun, penelitian terbaru menunjukkan hasil yang lebih kompleks: produk yang dianggap lebih hijau ternyata bisa membuat orang membeli lebih banyak.

Konsep ekonomi sirkular dirancang agar material tetap dalam siklus penggunaan lebih lama sehingga kebutuhan produksi baru bisa ditekan.

Praktiknya meliputi penggunaan bahan daur ulang, perpanjangan umur produk, hingga sistem reuse dan rental.

Tetapi penelitian berjudul "How Circular Economy Innovation Can Backfire on the Environment: Quantifying the Rebound Effect of the Textiles and Clothing Sector" menemukan adanya fenomena backfire rebound effect atau efek bumerang.

Fenomena ini terjadi ketika inovasi yang seharusnya menurunkan dampak lingkungan justru memicu peningkatan produksi dan konsumsi.

Salah satu penyebabnya adalah biaya produksi yang lebih efisien, sementara konsumen merasa lebih nyaman membeli lebih banyak karena menganggap produk tersebut sudah "lebih hijau".

Ketika Label Hijau Mendorong Konsumsi Berlebih

Sebagai contoh, pakaian berbahan daur ulang sering dipasarkan sebagai produk yang lebih ramah lingkungan. Namun, label tersebut dapat memicu konsumen membeli pakaian lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Akibatnya, permintaan terhadap pakaian baru terus meningkat sehingga manfaat lingkungan dari proses daur ulang menjadi berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali.

Penelitian tersebut menghitung rata-rata efek bumerang global sebesar 1,6, angka yang tergolong tinggi.

Secara sederhana, setiap peningkatan inovasi lingkungan sebesar satu persen di sektor tekstil justru diikuti kenaikan produksi tekstil baru sekitar 0,6 persen.