Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat saling serang di sekitar Selat Hormuz pada Jumat (27/6).

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang berisi penghentian perang di semua front.

in1

>>> Latsarmil SPPI Kembali Makan Korban, Total Tewas Jadi 5 Orang

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilancarkan pada 26 Juni sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal tanker M/V Ever Lovely pada 25 Juni.

Pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal, pesawat nirawak, dan situs radar pesisir Iran.

Kapal kargo berbendara Singapura itu sedang bergerak keluar dari Selat Hormuz menyusuri pesisir Oman saat diserang Iran.

CENTCOM menilai serangan Iran terhadap pelayaran komersial sebagai pelanggaran gencatan senjata dan merusak kebebasan navigasi.

Sebelumnya, Otoritas Urusan Selat Teluk Persia (PGSA) Iran memperingatkan kapal agar tidak berlayar di luar jalur transit yang ditentukan.

>>> Perbandingan Snapdragon 8 Gen 3 vs Dimensity 8400: Skor Benchmark dan Spesifikasi

PGSA menegaskan bahwa kepatuhan terhadap rute yang diumumkan merupakan syarat untuk transit yang aman melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran mendeteksi pesawat Israel mendekati wilayah udaranya melalui negara tetangga.

Militer Iran menganggap pergerakan pesawat Israel sebagai ancaman dan menyatakan akan merespons jika AS tidak mampu mengendalikan Israel.

AS dan Israel sebelumnya menggempur Iran pada akhir Februari, yang kemudian dibalas Teheran. Pertempuran berlanjut hingga pekan lalu ketika MoU ditandatangani.

MoU tersebut mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, termasuk Lebanon dan Israel, serta komitmen untuk tidak memulai serangan.

>>> Viral, Mbappe Minta Wasit Serahkan Ban Kapten ke Tchouameni

Negosiasi lanjutan di Swiss menghasilkan pembentukan komite kerja untuk memantau implementasi MoU.