Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangan ke sejumlah target militer Iran. Teheran menilai serangan itu dilakukan saat proses negosiasi masih berlangsung.

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menuding Amerika Serikat telah melanggar prinsip diplomasi.

in1

>>> OnePlus Nord 6 vs OnePlus 13R: Mana yang Lebih Worth It?

Menurutnya, serangan itu menunjukkan Washington tidak berkomitmen terhadap gencatan senjata.

"Presiden AS yang gagal itu telah menunjukkan bahwa dia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi ataupun gencatan senjata," kata Azizi, dikutip Anadolu Agency, Sabtu (27/6/2026).

Azizi menilai tindakan Amerika Serikat akan membawa dampak buruk bagi pihak yang melakukannya. Ia juga menyebut saling menyalahkan tidak lagi menjadi solusi.

"Pelanggaran gencatan senjata yang ceroboh ini, seperti biasa, akan berujung pada kemunduran dan penyesalan bagi pihak mereka," tegasnya.

Kronologi Serangan dan Respons AS

Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat menuding Iran menyerang kapal komersial di Selat Hormuz. Washington menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

>>> Prediksi Chris 'The Bear' Fallica untuk Match Day 17 Piala Dunia

Komando Pusat Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan ke lokasi penyimpanan rudal, drone, dan radar pesisir milik Iran. Serangan itu disebut sebagai respons atas ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

Presiden AS Donald Trump juga mengecam dugaan serangan Iran di Selat Hormuz. Ia menilai tindakan tersebut melanggar kesepakatan yang telah dibuat.

"Jelas sekali, ini adalah pelanggaran bodoh terhadap perjanjian gencatan senjata kita," ujar Trump.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa kapal yang melintas di Selat Hormuz tanpa izin Teheran dapat menjadi sasaran tindakan.

Pernyataan itu disampaikan sebelum serangan terbaru Amerika Serikat terjadi.

>>> Angels Pecat GM Perry Minasian, Tunjuk John Mozeliak sebagai Konsultan

Ketegangan kedua negara kini kembali meningkat di tengah upaya diplomasi yang sebelumnya diharapkan mampu mengakhiri konflik. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Teluk.