Mereka tidak mengklaim telah melihat langsung bintang pertama, melainkan menemukan tanda kimia yang konsisten dengan keberadaan purba mereka.

LAP1-B juga tampak didominasi oleh materi gelap. Data menunjukkan massa totalnya jauh melebihi materi tampak di dalamnya.

Lensa Gravitasi Membantu Pengamatan

in1

Bagaimana astronom bisa melihat galaksi redup dari jarak sejauh itu? Jawabannya adalah lensa gravitasi.

Gugus galaksi MACS J0416 yang berada di antara Bumi dan LAP1-B melengkungkan ruang-waktu dan memperbesar cahaya dari objek yang lebih jauh.

Efek seperti kaca pembesar kosmik ini memungkinkan JWST menangkap spektrum yang cukup detail untuk mengukur komposisi kimia galaksi.

Jendela ke Sejarah Kosmik

LAP1-B bisa menjadi salah satu petunjuk terbaik tentang generasi bintang paling awal di alam semesta.

Model kosmologi telah lama memprediksi keberadaan bintang primitif ini, tetapi mendeteksinya sangat sulit karena mereka kemungkinan meledak sebagai supernova dalam waktu singkat.

Penemuan ini memiliki implikasi luas.

Ini dapat membantu astronom memahami bagaimana galaksi pertama terbentuk, bagaimana kosmos diperkaya dengan elemen berat, dan bagaimana cahaya dari bintang paling awal mengakhiri apa yang disebut 'zaman gelap' kosmik.

Para peneliti berharap dapat menemukan lebih banyak galaksi seperti LAP1-B, membandingkan sifat kimianya, dan mengidentifikasi tanda pasti bintang Population III.

>>> Roy Suryo Ragukan Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli, Singgung Janji Mobil Esemka

Berkat kekuatan JWST, pencarian teoretis yang sudah lama mungkin akhirnya membuka jendela observasi nyata ke era paling kuno alam semesta.