Amerika Serikat mulai beralih ke jalur diplomasi dengan Iran, namun Israel disebut belum menghentikan ambisinya untuk menggulingkan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.

Kepala Mossad, Roman Gofman, tengah menyusun pendekatan baru untuk melanjutkan misi perubahan rezim di Iran. Langkah ini menunjukkan perbedaan strategi antara Washington dan Tel Aviv.

in1

>>> Pemerintah Akui Ada 'Kerugian Sedikit' di Patriot Bond, Tapi Lebih Baik dari Uang di Luar

Presiden AS Donald Trump berupaya mengubah konflik menjadi proses diplomatik melalui perundingan nuklir. Namun, badan intelijen Israel justru tetap menjadikan pergantian rezim sebagai target jangka panjang.

Sebelumnya, Gofman dilaporkan pernah menyampaikan rencana meruntuhkan rezim Iran kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Namun, hampir empat bulan setelah konflik pecah, pemerintahan Iran tetap bertahan meski sempat menghadapi serangan gabungan AS dan Israel.

Washington kemudian memilih menandatangani kesepahaman awal dengan Teheran sebagai dasar negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Gofman menilai strategi pendahulunya gagal mencapai target perubahan rezim.

Strategi lama itu mencakup operasi propaganda melalui media sosial hingga upaya memanfaatkan kelompok Kurdi untuk memperlemah posisi Iran.

>>> Patriot Bond Jadi Ujian Kredibilitas Danantara Indonesia di Mata Investor

Kini, Gofman dikabarkan tengah merombak sejumlah unit di Mossad untuk menyusun strategi operasi baru demi mencapai tujuan yang sama.

Israel dikabarkan memiliki target yang lebih terbatas dibanding Mossad. Kalangan militer lebih memilih melemahkan kemampuan musuh daripada langsung menggulingkan pemerintahan Iran.

Gofman resmi memimpin Mossad pada 2 Juni 2026. Ia sebelumnya menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu.

Ia menegaskan bahwa operasi rahasia tetap menjadi inti kekuatan badan intelijen Israel.

"Jantung Mossad adalah operasi-operasi rahasia terhadap target-targetnya. Kami akan menjaga misi itu dalam kondisi apa pun," katanya.

Sebelumnya, The New York Times melaporkan adanya keyakinan bahwa perang dapat memicu pemberontakan yang berujung pada jatuhnya rezim Iran.

>>> B2K Bawa Senjata Rahasia Lawan Pretty Ricky di Verzuz: Putra Omarion

Namun hingga kini, target tersebut belum terwujud. Teheran tetap berdiri dan bahkan telah memasuki babak baru perundingan dengan AS.