Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih kekurangan dokter, terutama di daerah-daerah terpencil. Kondisi ini menjadi penyebab utama tingginya beban kerja tenaga kesehatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI pada Kamis (25/6).

in1

>>> Aturan Verifikasi Wajah untuk Registrasi SIM Baru Mulai 1 Juli 2026

Ia menjelaskan bahwa kekurangan dokter berdampak pada dokter umum, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), hingga peserta internship di fasilitas pelayanan kesehatan.

"Masalah pertama yang kita lihat adalah beban dari dokter itu banyak sekali.

Jadi kita sering sekali denger, internship itu dipekerjakan pengganti dokter yang ada, PPDS kerjanya sampai pagi-pagi, subuh-subuh. Beban dari dokter-dokter kerjanya sampai malam-malam," kata Budi.

Puskesmas Minim Dokter Spesialis

Budi menyebut masih banyak puskesmas yang tidak memiliki dokter spesialis. Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Mamberamo Raya yang disampaikan langsung oleh kepala daerah setempat.

>>> Panduan Buka Blokir STNK: Penyebab, Syarat, dan Biaya

"Kemarin kita kedatangan Bupati Mamberamo Raya, tidak ada satu pun dokter spesialis di sana. Dokter giginya 0 puskesmasnya.

Mungkin ada dari 17, 12 nggak punya dokter. Jadi masalah utamanya karena memang kita kekurangan dokter sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali," katanya.

Menurut Budi, kekurangan dokter dapat dilihat dari indikator Surat Izin Praktik (SIP). Banyak dokter yang memiliki SIP di lebih dari satu tempat praktik.

"Cara yang paling gampang ngecek kekurangan dokter ya, karena SIP-nya masih 3. Kalau SIP 3 itu kan artinya yang ada hanya sepertiga dari yg dibutuhkan.

>>> Pengawal Whitney Houston Bantah Penyanyi Itu Mabuk Saat Jatuh di Panggung Oprah

Kalau jumlah dokter cukup, udah pasti SIP-nya 1, karena memang dia bekerja di 1 tempat," katanya.