Transisi energi tidak hanya soal pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur besar, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Petani bisa menekan biaya operasional, pelaku usaha kecil memperoleh listrik andal dan terjangkau, serta komunitas menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

in1

>>> Detective Conan Cinema Tour 2026 Hadir di Berbagai Konvensi Anime AS

Perspektif ini menjadi landasan Schneider Electric dalam mendorong akses energi berkelanjutan di Asia, termasuk Indonesia.

Melalui Schneider Electric Energy Access Asia (SEEAA), perusahaan berinvestasi pada startup tahap awal di sektor energi bersih, akses energi, mobilitas rendah karbon, dan solusi iklim.

SEEAA menjadi jembatan antara ambisi global Schneider Electric dan dampak nyata di tingkat lokal.

Secara global, Schneider Electric menargetkan dukungan bagi 100 juta orang untuk memperoleh akses listrik berkelanjutan pada 2030.

Target itu membutuhkan eksekusi lokal melalui solusi relevan, terukur, dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

"Kami berinvestasi pada perusahaan tahap awal yang secara langsung menyediakan akses energi dan layanan energi bersih kepada pengguna akhir," ujar SVP Corporate Citizenship & Institutional Affairs Schneider Electric Gilles Vermot Desroches dalam keterangan resmi, Selasa (23/6).

Dampak diukur melalui indikator jelas di tingkat perusahaan, seperti jumlah penerima manfaat, emisi yang dihindari, dan lapangan kerja yang tercipta.

Dengan demikian, dampak tidak hanya menjadi target abstrak, tetapi terhubung langsung dengan aktivitas perusahaan yang didukung.

Dukungan untuk Startup Lokal

Di Indonesia, SEEAA mendukung model bisnis yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Perusahaan seperti Agros, Xurya, SolarKita, dan Dash Electric menunjukkan transisi energi dapat menjawab persoalan dekat dengan masyarakat dan pelaku usaha.