>>> BGN Perbarui Prioritas Penerima MBG, Fokus pada 4 Kelompok

'Nomor 317!' Asca masuk ke ruangan kecil dengan tiga juri dan kamera.

in1

Seorang juri perempuan tersenyum profesional. 'Ceritakan kisah hidup Anda.'

Asca berpikir lama. 'Saya lahir miskin.

Sampai sekarang masih miskin.' Juri menunggu.

'Itu saja.'

Juri bertanya apakah ia pernah mengalami tragedi besar, bencana alam, KDRT, atau penyakit kronis. Asca menjawab tidak, kecuali diare tiga hari.

Juri mulai kecewa.

'Lalu mengapa Anda ikut kompetisi ini?' Asca menjawab jujur, 'Saya butuh uang.'

Seorang juri mencondongkan badan. 'Kenapa?'

'Karena miskin itu mahal, Pak.'

Asca keluar tanpa tangisan. Ia duduk di samping tukang es doger dan memesan es tanpa es.

Ia berpikir, haruskah bersyukur karena hidupnya tidak semenyedihkan peserta lain, atau kecewa karena penderitaannya tidak cukup untuk lolos?

>>> Anthropic Luncurkan Claude Tag di Slack dengan Memori Bersama dan AI Proaktif

Namun, Asca tidak pernah menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang ringan. Kesengsaraan itu datang sedikit demi sedikit, lalu menetap terlalu lama.