Pasar saham Korea Selatan mengalami kejatuhan tajam pada Selasa (23/6). Indeks KOSPI anjlok 10 persen dari level rekor tertingginya.

Aksi jual besar-besaran menghantam saham teknologi dan semikonduktor. Dua raksasa chip, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing merosot lebih dari 12 persen.

in1

>>> Cara Praktis Melacak Status Kelayakan Penerima Bantuan Sosial 2026 Melalui Situs Resmi

Bursa Korea (Korea Exchange) terpaksa menghentikan perdagangan selama 20 menit pada sesi siang untuk meredam gejolak. Ini merupakan kali keempat bursa mengaktifkan circuit breaker sepanjang 2026.

Sentimen risk-off global memicu aksi jual awal, menyusul pelemahan saham teknologi di AS. Tekanan membesar setelah investor asing melepas saham KOSPI senilai lebih dari US$2,5 miliar.

Pelaku pasar menyoroti maraknya likuidasi paksa (forced liquidation) terhadap investor ritel yang menggunakan dana pinjaman.

"Aksi ini sangat berkaitan dengan kondisi pasar Korea yang penuh euforia," ujar Kepala Strategi Ekuitas CLSA Alexander Redman.

Volume perdagangan pada Selasa melonjak 52 persen dibanding rata-rata 20 hari terakhir. Kejatuhan ini memperpanjang volatilitas pasar saham Korea tahun ini.

>>> Kejaksaan Dipuji di Kasus MBG, Citra Ternoda karena Roy Suryo dan dr. Tifa

Tekanan diperburuk oleh produk ETF berleverase yang melacak saham Samsung dan SK Hynix. Salah satu ETF milik Samsung Asset Management kehilangan lebih dari 25 persen nilainya dalam sehari.

Utang margin investor Korea Selatan mencapai rekor tertinggi bulan ini, yakni 38,5 triliun won (sekitar US$25 miliar).

Manajer Investasi Timefolio Investment Management Kim Namho mengatakan tekanan jual meningkat pesat pada sore hari.

Meski demikian, investor ritel justru memborong saham. Mereka tercatat membeli saham KOSPI lebih dari 8 triliun won, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Chief Investment Officer Eugene Asset Management Ha SeokKeun menilai kejatuhan lebih banyak dipicu aksi ambil untung setelah reli panjang.

>>> Ronaldo Cetak Dua Gol, Enggan Bahas Saingi Messi di Top Skor Piala Dunia 2026

"Penurunan ini tampaknya terutama didorong profit taking karena pasar sudah overbought," katanya.