Konflik Timur Tengah Picu Bursa Korea Selatan Anjlok Lebih dari 2 Persen
Bursa saham Korea Selatan mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (10/6/2026) pagi waktu setempat.
Indeks acuan KOSPI merosot 194,09 poin atau 2,40 persen ke level 7.902,84.
>>> 8 Pemain Manchester City Berpotensi Hengkang Musim Panas Ini
Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran pada Selasa (9/6/2026).
Langkah tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Iran menembak jatuh helikopter Apache milik AS di Selat Hormuz.
Ketegangan baru ini memicu pesimisme pasar global terhadap prospek kesepakatan damai antara Washington dan Teheran. Situasi juga dinilai merusak stabilitas gencatan senjata yang sebelumnya rapuh.
Pemerintah Korea Selatan merespons cepat dengan menggelar koordinasi. Menteri Keuangan bersama jajaran pejabat ekonomi utama sepakat memperketat pemantauan risiko pasar dan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Sektor Teknologi dan Otomotif Tertekan
Sektor teknologi berkapitalisasi besar menjadi penekan utama pergerakan KOSPI. Saham Samsung Electronics turun 4,35 persen, sementara SK Hynix terkoreksi 3,70 persen.
Pelemahan juga merembet ke sektor otomotif dan baterai kendaraan listrik.
Saham LG Energy Solution melemah 0,76 persen, Hyundai Motor turun 2,50 persen, dan Kia Corp terkoreksi 0,24 persen.
Namun, saham POSCO Holdings bergerak melawan arus dengan menguat 0,55 persen. Sementara itu, saham Samsung BioLogics ditutup melemah 0,46 persen.
>>> Pemprov DKI Optimalkan 76.000 Kader Dasawisma untuk Edukasi Pola Asuh Digital
Secara keseluruhan, dari 919 saham yang ditransaksikan, sebanyak 443 saham menguat dan 431 saham melemah.
Investor asing mencatat aksi jual bersih senilai 1,9 triliun won atau sekitar US$ 1,25 miliar.
Nilai Tukar Won Menguat
Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar won justru menguat 0,88 persen ke posisi 1.519,4 per dolar AS.
Sebelumnya, won ditutup di level 1.532,7 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi di tengah pengetatan pengawasan oleh otoritas moneter.
Bank Sentral Korea Selatan dan lembaga pengawas keuangan mulai menjalankan inspeksi langsung secara ketat sejak Rabu (10/6/2026) untuk memantau aktivitas yang dianggap tidak wajar di pasar valuta asing.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah tenor tiga tahun naik 1,5 basis poin ke 3,920 persen.
>>> IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.838,20, Didorong Saham Big Cap
Sementara yield obligasi tenor 10 tahun naik 3 basis poin ke 4,302 persen.
Update Terbaru
Rekam Percakapan Tanpa Izin: Tren Baru yang Meresahkan
Sabtu / 25-07-2026, 21:32 WIB
Xenosaga Kembali Hidup? Momo Muncul di Xenoblade Chronicles 2 Switch 2
Sabtu / 25-07-2026, 21:29 WIB
Mantan Kepala PlayStation Ungkap Alasan Sony Tutup Japan Studio
Sabtu / 25-07-2026, 21:29 WIB
Tsuya Tsuya Luncurkan Manga Spinoff Baru Akatsuki no Logos pada 18 Agustus
Sabtu / 25-07-2026, 21:29 WIB
Serial Live-Action Spooky in Love Dapat Adaptasi Webtoon
Sabtu / 25-07-2026, 21:28 WIB
Intip The Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Garapan Balai Yasa Gubeng
Sabtu / 25-07-2026, 21:28 WIB
deGaiya Luncurkan Layanan Titip Jual Tas Mewah dengan Dana Awal
Sabtu / 25-07-2026, 21:28 WIB
3 Fitur Samsung Galaxy Watch 9 yang Paling Dinantikan
Sabtu / 25-07-2026, 21:28 WIB
Mantan Juara Super Bowl Jordan Devey Meninggal Bunuh Diri di Usia 38
Sabtu / 25-07-2026, 21:26 WIB
Debut Mariano Peralta di Persib Tertunda karena Administrasi
Sabtu / 25-07-2026, 21:26 WIB
Shin Tae-yong Dihukum 10 Tahun di Korsel, Bagaimana Nasibnya di Persija?
Sabtu / 25-07-2026, 21:26 WIB
Samsung Raih Kontrak Raksasa Rp3.200 Triliun untuk Produksi Chip Broadcom
Sabtu / 25-07-2026, 21:21 WIB
Bangkai Kapal Berusia 500 Tahun Ditemukan di Gurun Namibia, Simpan 2.000 Koin Emas dan 17 Ton Tembaga
Sabtu / 25-07-2026, 21:21 WIB
10 Superfood untuk Penderita Diabetes, Mudah Ditemukan
Sabtu / 25-07-2026, 21:21 WIB







