Pada tingkat yang lebih lanjut, pola ini bahkan bisa berlanjut hingga anak memasuki usia kuliah.

Misalnya, orang tua masih mengatur jadwal harian, mengingatkan tugas, hingga berkomunikasi dengan dosen atas nama anak.

Mengapa Orang Tua Melakukannya?

in1

Ada berbagai alasan mengapa snowplow parenting bisa terjadi. Salah satunya adalah rasa khawatir yang berlebihan terhadap masa depan anak.

Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain: sikap terlalu melindungi karena tidak tega melihat anak gagal atau kesulitan; persepsi dunia yang berbahaya, terutama dipengaruhi oleh informasi dari media; pengalaman pribadi orang tua yang ingin 'menghindarkan' anak dari kesalahan yang sama; kecemasan dan kebutuhan mengontrol yang membuat orang tua sulit melepas kendali; tekanan sosial dan budaya yang menekankan prestasi akademik dan kesuksesan; serta persaingan sosial sehingga orang tua merasa anak harus selalu unggul dibanding yang lain.

Dampak Jangka Panjang pada Anak

Mengutip Verywell Mind, meski dalam jangka pendek snowplow parenting bisa membuat anak terlihat 'berhasil', dampaknya tidak selalu positif dalam jangka panjang.

Anak yang terbiasa 'dipermulus jalannya' berisiko mengalami beberapa hal berikut: kurangnya kemandirian karena terbiasa dibantu dalam banyak hal; ketergantungan pada orang lain sehingga sulit menyelesaikan masalah sendiri; kesulitan mengatur emosi, terutama saat menghadapi kegagalan; meningkatnya kecemasan karena tidak terbiasa menghadapi situasi sulit; serta sikap merasa berhak (entitlement), yaitu menganggap selalu layak mendapatkan bantuan atau perlakuan khusus.

>>> Kejari Jaksel Tak Tahan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Ini Isi Surat Permohonannya

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak kesulitan menghadapi dunia nyata yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.