Status janda di Indonesia sering kali identik dengan stigma negatif. Namun, bagi sebagian perempuan, status ini justru menjadi simbol kemerdekaan diri.

Perceraian membawa perubahan status perkawinan. Laki-laki menjadi duda, perempuan menjadi janda.

in1

>>> Sutiyoso Kenang Awal Mula Bangun Sistem Transportasi Umum Jakarta

Keduanya menandakan berakhirnya hubungan dengan pasangan sah.

Namun, stigma terhadap janda lebih berat dibandingkan duda. Pegiat isu perempuan Poppy Dihardjo mengatakan hal ini tidak lepas dari budaya patriarki.

Menurut Poppy, perempuan sering dinilai berdasarkan status relasinya dengan orang lain, seperti istri atau ibu. Ketika status itu hilang, masyarakat memandang mereka secara berbeda.

"Perempuan selalu dianggap sebagai hak milik. Begitu ikatannya putus, dianggap tidak bertuan dan mengancam keteraturan sosial," kata Poppy kepada CNNIndonesia.

com, Senin (22/6).

Kondisi ini berbeda dengan laki-laki. Laki-laki tidak pernah didefinisikan oleh status relasionalnya, melainkan oleh dirinya sendiri.

Penelitian dalam Indonesia and the Malay World menunjukkan status janda sering dikaitkan dengan penilaian moral dan seksualitas perempuan.

Perempuan kepala keluarga juga kerap distigma sebagai lemah atau perebut suami.

Studi lain berjudul A Critical Study of the Discrimination of Widow menemukan janda menerima stigma lebih besar dibanding duda, meski sama-sama bercerai atau kehilangan pasangan.

Lebih Bahagia saat Menjanda

Meski stigma masih kuat, sejumlah penelitian menemukan pengalaman menjadi janda tidak selalu menurunkan kualitas hidup.

>>> Cara Cek Status PKH Ibu Hamil 2026 Lewat HP dan Website

Riset di jurnal International Psychogeriatric Association menyebut laki-laki lebih bahagia saat menikah, sedangkan kesejahteraan perempuan meningkat setelah menjadi janda.

Setelah melewati masa berduka, sebagian perempuan merasa memiliki lebih banyak ruang menentukan hidup sendiri.