China telah mengoperasikan pusat data bawah laut pertama di dunia yang langsung ditenagai oleh angin lepas pantai.

Proyek ini memindahkan infrastruktur kecerdasan buatan ke lokasi yang jarang dikaitkan dengan komputasi awan.

in1

>>> Presiden Guterres Meninggal, Timor Leste Tetapkan Berkabung Sepekan

Pusat data bawah laut Shanghai Lin-gang mulai beroperasi di lepas pantai timur kota pada Mei lalu.

Sistem ini menggunakan tenaga angin di dekatnya dan pendinginan air laut untuk mengurangi tekanan pada lahan, air tawar, dan jaringan listrik.

Waktu peluncuran proyek ini sangat tepat.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pusat data menggunakan sekitar 415 TWh listrik pada 2024 dan bisa mencapai 945 TWh pada 2030, dengan AI sebagai pendorong utama pertumbuhan tersebut.

Di balik setiap respons chatbot, rekomendasi streaming, dan uji kendaraan otonom, ada mesin fisik yang memanas di suatu tempat.

AI Masuk ke Laut

Proyek Shanghai berlokasi sekitar 10 km di lepas pantai area Lin-gang dengan kapasitas terencana 24 MW.

Kementerian Perhubungan China menyebut fase demonstrasi pertama sebesar 2,3 MW, dengan pembangunan lebih luas direncanakan dalam dua fase.

Sekilas, ide ini terdengar seperti fiksi ilmiah.

Namun secara praktis, ini adalah jawaban langsung atas masalah nyata: menempatkan server di dekat angin lepas pantai, menyegelnya dalam infrastruktur kelas laut, dan membiarkan laut membantu pekerjaan pendinginan.

Pendinginan adalah Target

Pusat data tidak hanya membutuhkan listrik untuk menjalankan server, tetapi juga energi untuk mencegah server dari panas berlebih sepanjang waktu.

IEA menyebut pendinginan dan kontrol lingkungan dapat menyumbang sekitar 7% penggunaan listrik di pusat data hyperscale yang efisien, namun lebih dari 30% di fasilitas perusahaan yang kurang efisien.