Steve Bray, yang dikenal sebagai 'Stop Brexit Man', mengklaim bahwa tindakannya memutar lagu 'Ode to Joy' saat pidato pengunduran diri Perdana Menteri Sir Keir Starmer sebenarnya adalah bentuk penghormatan.

Bray menyatakan bahwa ia sengaja memutar lagu tersebut untuk menenggelamkan suara seorang pria dengan pengeras suara yang terus meneriakkan kritik terhadap Partai Buruh dan Starmer di luar Downing Street.

in1

>>> Polisi Buru Dua Pria Usai Wanita Dilecehkan dan Didorong di Tangga Pantai Blackpool

Dalam unggahannya di X, Bray menjelaskan bahwa 'Ode to Joy' diputar dengan volume latar sebagai tanda hormat, bukan untuk mengganggu.

Ia menambahkan bahwa pilihan lagu itu didasarkan pada fakta bahwa Starmer pernah menyebut 'Ode to Joy' sebagai salah satu musik favoritnya.

Namun, aksi Bray menuai kecaman dari berbagai kalangan, baik dari pihak kiri maupun kanan.

Seorang anggota parlemen Partai Buruh bahkan menyebut Bray layak dikirim ke Guantanamo atau rumah sakit jiwa.

>>> Kartun Harian Metro oleh Guy Venables Edisi 23 Juni 2026

Lord David Wolfson, Jaksa Agung Bayangan, mengecam tindakan Bray sebagai aksi mencari perhatian yang menyamar sebagai aktivisme.

Lewis Goodall, mantan jurnalis Newsnight, menyebut Bray sebagai 'yob' atau preman, sementara Andrew Neil menyebutnya 'badut'.

Di sisi lain, analis politik Owen Jones membela hak Bray untuk bertindak seperti itu, meskipun mengakuinya sebagai tindakan bodoh.

>>> Akses KRL ke JIS Resmi Aktif, Ini Rute dan Jam Operasionalnya

Ini bukan pertama kalinya Bray mengganggu momen penting seorang perdana menteri. Sebelumnya, ia memutar lagu 'Things Can Only Get Better' saat Rishi Sunak mengumumkan pemilu.