Keir Starmer mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Inggris pada Senin (22/6) setelah menghadapi tekanan politik yang meningkat.

Ia menjadi perdana menteri ketujuh yang mundur dalam satu dekade terakhir, mencerminkan ketidakstabilan politik di parlemen Inggris.

in1

>>> Dokter Tifa Bersyukur Tak Ditahan Kejari Jaksel dalam Kasus Ijazah Jokowi

Sebelum Starmer, Boris Johnson mundur pada September 2022, Liz Truss pada Oktober 2022, dan Rishi Sunak pada 2024 setelah Partai Konservatif kalah pemilu.

Kebijakan Kontroversial

Selama memimpin, Starmer menerapkan sejumlah kebijakan yang tidak populer, seperti upaya menaikkan pajak penghasilan, menghapus biaya kuliah universitas, dan menasionalisasi layanan publik.

Ia juga memecat anggota partai yang mengkritik penyelidikan antisemitisme internal, yang dinilai berlebihan oleh anggota tersebut.

Kritik juga datang dari ekonomi yang melambat dan kontroversi diplomat yang ditunjuknya terkait dokumen Jeffrey Epstein.

>>> Skenario Prancis dan Norwegia Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Latar Belakang Starmer

Starmer lahir pada 2 September 1962 di Surrey, Inggris. Ibunya bekerja di National Health Service (NHS) dan meninggal pada 2015 karena penyakit Still.

Ia adalah anggota keluarga pertama yang kuliah, kemudian aktif di majalah sayap kiri Socialist Alternatives.

Starmer berprofesi sebagai pengacara dan menjadi kepala penuntutan umum pada 2008, mengepalai Crown Prosecution Service. Ia mendapat gelar bangsawan pada 2014 sebelum terjun ke politik.

>>> Daihatsu: Penjualan Mobil Menengah-Atas Tumbuh, LCGC Menurun

Partai Buruh di bawah kepemimpinannya memenangkan 404 dari 660 kursi pada pemilu 2024, membawanya menjadi perdana menteri.