Hal itu terjadi setelah kukang berpisah jalur evolusi dari trenggiling dan armadilo.

>>> Honda Team Asia Pamer Veda Ega Juggling Bola, Lamine Pratama Vibes

in1

"Kukang memiliki metabolisme paling lambat dari semua mamalia, namun mereka tetap sehat," ujar Mazzoni.

"Memahami bagaimana mereka mencapai ini bisa mengungkap wawasan baru tentang cara sel mengelola energi secara efisien," tambahnya.

Temuan ini juga berimplikasi pada kesehatan manusia.

Berbagai kondisi medis pada manusia, termasuk diabetes, gangguan terkait penuaan, neurodegenerasi, dan penyusutan otot, melibatkan masalah produksi energi dan fungsi mitokondria.

Sebagai contoh, obesitas dapat berdampak pada mitokondria, dan gangguan pada organel ini telah dikaitkan dengan penyakit seperti Parkinson.

"Meski penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, lini sel kukang dapat menjadi model alami untuk memahami bagaimana organisme bertahan dalam kondisi energi rendah, dan apa yang salah saat penyakit terjadi," kata ahli biologi molekuler Pedro Galante dari Hospital Sírio Libanês, Brasil.

"Dalam jangka panjang, ini bisa menginformasikan riset tentang preservasi jaringan, pengobatan perawatan kritis, penuaan, penyakit metabolik, bahkan perjalanan luar angkasa jarak jauh," imbuhnya.

Lebih lanjut, para peneliti menyoroti bagaimana perubahan DNA yang dihasilkan oleh gen loncat dapat memicu kanker pada manusia.

Artinya, toleransi kukang yang sangat tinggi terhadap mekanisme ini justru semakin menarik untuk diteliti.

"Evolusi telah menjalankan miliaran eksperimen," kata ahli bioinformatika Marcela Uliano-Silva dari Wellcome Sanger Institute, Inggris.

>>> EastFood Indonesia Expo 2026 Hadirkan Peserta Mancanegara, Perluas Jaringan Bisnis

"Dengan mempelajari hewan-hewan yang tidak biasa seperti kukang, kita terkadang menemukan solusi biologis yang tidak pernah berevolusi pada manusia," lanjutnya.