Arus logistik nasional terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya aktivitas perdagangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja ekspor dan impor yang masih tumbuh, dengan neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD5,64 miliar sepanjang Januari-April 2026.

in1

>>> Pria 40-50an Sering Kehilangan Energi? Ini Penyebabnya

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia mencapai USD92,15 miliar pada periode tersebut, tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan nilai USD87,74 miliar, didorong sektor industri pengolahan yang menyumbang USD75,57 miliar.

Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD22,76 miliar, disusul Amerika Serikat USD10,17 miliar, dan India USD6,14 miliar.

Ekspor ke ASEAN mencapai USD17,70 miliar, sementara ke Uni Eropa (27 negara) sebesar USD6 miliar.

Jawa Tengah turut berkontribusi dengan nilai ekspor USD4,5 miliar pada Januari-April 2026.

Tantangan dan Dukungan Logistik

Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, mengatakan sejumlah komoditas menjadi andalan ekspor daerah, seperti produk kayu dan turunannya, produk rajut, serta gula aren.

Namun, aktivitas ekspor masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya logistik dan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Ade menilai peningkatan kapasitas dan layanan di Pelabuhan Tanjung Emas menjadi faktor penting dalam mendukung ekspor.

Pembenahan fasilitas dan penambahan peralatan operasional, khususnya untuk bongkar muat dan pengelolaan peti kemas, dinilai mampu memperlancar arus distribusi barang.

Diperlukan penguatan iklim usaha untuk menjaga kepercayaan investor dan memperluas akses pasar ekspor.

Dinamika geopolitik global, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), dan perubahan kebijakan perpajakan juga menjadi perhatian pelaku industri.