"Awal banget itu modal Rp5 juta. Itu tuh udah mencakup semuanya ya, freezer sama burner untuk slicing daging.

Kita semuanya beli second. Freezer beli second, burner beli second.

in1

Selebihnya kita menggunakan barang-barang yang ada di rumah... Karena emang modalnya sangat-sangat terbatas, jadi kita start dari small.

Yang penting berjalan aja, gitu," jelasnya.

Menariknya, modal Rp5 juta itu pun didapatkan dari hasil kerja sama bagi hasil dengan tetangganya.

Berbekal permintaan pasar yang sudah terbentuk dari sistem maklon sebelumnya, sang tetangga pun memercayakan modalnya.

"Jadi berbekal nekat tapi ada demand. Jadi aku berani untuk menawarkan ke orang lain kerja sama.

Karena demand-nya udah ada, marketnya udah ada. Dalam jangka waktu setahun uangnya udah kita balikin.

Jadi itu di 2021, akhirnya kita bisa memproduksi lebih banyak, dan freezer kita udah nambah," ungkapnya.

Inovasi Produk

Aisyah mengaku lebih leluasa saat memproduksi kebab sendiri dibanding menjual dengan sistem maklon. Sebab, ia bisa berinovasi membuat berbagai macam rasa kebab yang sesuai atas permintaan konsumennya.

"Kalau sebelumnya kan kita mengambil produk di orang lain, jadi kita tidak bisa banyak request.

Ketika ada masukan dari konsumen bahwa ada rasa yang kurang, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi begitu bikin sendiri, produknya akhirnya bisa di-custom sesuai keinginan pasar," jelas Aisyah.

Awalnya varian Kebab Frozen Endul hanya daging original biasa.

Namun, setelah memproduksi sendiri berkembang jadi ada varian kebab keju, kebab mozzarela, kebab ayam, hingga kebab ikan bandeng.

"Ternyata respon dari customer kita jauh lebih baik dibanding yang sebelumnya. Karena kalau kita bikin sendiri, akhirnya bisa custom dan bisa berinovasi," tuturnya.