Sebuah rumah kecil bernama TECLA di Massa Lombarda, Italia, berhasil dibangun menggunakan teknologi pencetakan 3D dengan bahan baku tanah liat lokal.

Proyek ini hampir tidak menggunakan batu bata konvensional yang biasa mendominasi lokasi konstruksi.

in1

>>> Pendiri CAA Michael Ovitz Tinggalkan Deposisi saat Ditanya soal Jeffrey Epstein

Hasilnya adalah prototipe seluas sekitar 60 meter persegi yang mempertanyakan kembali cara kita membangun rumah.

TECLA dirancang oleh Mario Cucinella Architects dan direkayasa serta dibangun oleh WASP, perusahaan Italia yang terkenal dengan pencetakan 3D skala besar.

Alih-alih menggunakan batu bata konvensional, tim menggunakan tanah mentah yang bersumber secara lokal dan dibentuk melalui fabrikasi digital.

Proses Pencetakan yang Presisi

Rumah ini diproduksi dengan sistem Crane WASP, printer konstruksi yang menempatkan campuran berbasis tanah langsung di lokasi.

Menurut WASP, TECLA membutuhkan sekitar 200 jam pencetakan, 7.000 kode mesin, 350 lapisan setebal 0,47 inci masing-masing, sekitar 150 kilometer ekstrusi, dan sekitar 60 meter kubik material alami.

Garis cetakan memberikan dinding tampilan bergaris, mirip dengan pot tanah liat buatan tangan yang diperbesar menjadi tempat berlindung.

Proyek ini juga menunjukkan bahwa pencetakan 3D tidak hanya tentang kecepatan, tetapi juga dapat membentuk dinding, elemen atap, dan beberapa fitur internal dalam satu proses berkelanjutan.

Mengapa Kubah Itu Penting

TECLA terdiri dari dua volume bundar yang digabungkan.

Di dalamnya, tata letak kompak mencakup ruang tamu, dapur, kamar tidur, dan kamar mandi, dengan beberapa furnitur terintegrasi ke dalam struktur cetakan.

Kubah tidak hanya terlihat futuristik.

Cangkang melengkung menyebarkan gaya lebih alami daripada banyak desain kotak, dan permukaan kontinu membantu bangunan bertindak sebagai satu sistem yang terhubung.