Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan dijaga di bawah tiga persen.

Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga dikendalikan di bawah 60 persen.

in1

>>> iQOO Z11i Resmi Meluncur di China, Baterai 6.500 mAh Jadi Andalan

Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI pada Senin (22/6/2026).

Langkah ini diambil untuk mempertahankan disiplin fiskal nasional di tengah pengawasan ketat lembaga pemeringkat internasional.

"Kita mengambil tindakan itu bukan untuk menyusahkan ekonomi, tetapi kita mengambil tindakan yang optimal sambil menjaga batasan-batasan ini karena kan kita dilihat oleh lembaga pemeringkat dunia," ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan bahwa kebijakan pengetatan tetap dijalankan meskipun ada tekanan dari lonjakan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan pasokan listrik domestik.

Menurutnya, banyak negara lain memiliki defisit di atas tiga persen, namun Indonesia justru menjadi sorotan.

"Padahal yang lain sudah di atas 3%.

>>> Wardah Hadirkan Dua Cushion Terbaik untuk Mengatasi Kulit Kering

Hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya kenapa, tetapi nggak apa, kita stick ke disiplin yang mereka terapkan.

Nanti kita tunjukan ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita, negara lain harus contoh kita," kata Purbaya.

Ia membandingkan rasio utang Indonesia dengan negara maju. Jerman memiliki rasio utang di atas 60 persen, Amerika Serikat 100 persen, dan Jepang 275 persen.

"Tetapi kita yang diincar, saya nggak tahu kenapa, mungkin kita masih kurang doa," selorohnya.

Pemerintah memproyeksikan defisit akhir tahun bisa lebih rendah jika harga minyak mentah dunia turun signifikan. "Kita desain sekarang mendekati 2,9% atau lebih rendah lagi.

>>> Peringatan Polusi Udara Parah di London Saat Suhu Capai 39°C

Saya yakin kalau harga minyak dunia turun ke bawah ke level yang sebelumnya, di kuartal II-2026 defisit kita akan bisa turun ke bawah 2,9%," imbuh Purbaya.