Pusat dari koleksi ini adalah proyek Pashmy, eksperimen terbaru Tod's dalam mengubah kulit menjadi objek taktil.

Jenama ini menyebutnya sebagai ekspresi tertinggi dari keahlian mereka dalam riset dan seleksi material.

in1

Kulit Pashmy memiliki ketebalan hanya 0,3 milimeter, begitu tipis hingga hampir menantang persepsi tentang bahan kulit yang sering terlihat dan terasa 'berat'.

Perbandingan yang digunakan Tod's adalah pashmina.

Sekalipun analogi semacam ini sering terdengar klise, hasilnya adalah sebuah material yang dirancang untuk bergerak seperti selembar kain.

Brera bomber, dalam palet warna netral hangat, menjadi salah satu potongan paling meyakinkan. Siluetnya familier, dibuat dengan kulit yang luar biasa ringan.

Castello jacket, blazer lembut dengan patch pockets yang jauh dari kakunya pakaian pria formal.

Lalu, ada Solferino shirt, menerjemahkan ide Pashmy itu sendiri, yang nyaris tampak seperti eksperimen dalam menghapus batas antara kemeja dan kulit kedua.

Tidak ada siluet atau warna yang mengejutkan. Daya tariknya justru terletak pada cara Tod's membuat sesuatu yang familiar terlihat mewah.

Keteguhan pada elevasi yang tenang inilah yang terus menjadi proposisi utama Tod's, dan Della Valle selalu merumuskannya secara singkat.

"Kualitas. Craftsmanship", ujarnya di tengah-tengah presentasi yang diikuti CNNIndonesia.

>>> Aksi CORTIS dan COER Indonesia di Allo Fest 2026 Tuai Pujian

com.

Di industri barang mewah yang tergila-gila pada storytelling, jawaban itu terdengar hampir anti-klimaks. Namun, justru di situlah kekuatannya.

Tod's, pada dasarnya, tidak pernah lebih rumit dari itu.

Sebelum grup ini delisting dari bursa saham Milan pada 2024, Della Valle juga menegaskan kepercayaan dirinya pada posisi brand tersebut dengan nada serupa.