Nexon, penerbit game The First Descendant, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukanlah satu-satunya kunci sukses di industri game.

Dalam pidato utama di Nexon Developers Conference (NDC) 2026, co-CEO Nexon Korea Kang Dae-hyun menyebut 'konteks' sebagai faktor pembeda utama.

in1

>>> Embark Lacak Setiap Peluru di Arc Raiders untuk Seimbangkan Gameplay

Menurut Kang, AI memang menurunkan hambatan masuk dalam pengembangan game, tetapi tidak cukup untuk menjamin kemenangan.

"Sekarang, game harus bersaing melalui kedalaman konteks, bukan berdasarkan seberapa baik pembuatannya," ujarnya.

Apa Itu 'Konteks'?

Kang menjelaskan bahwa konteks mencakup segala hal di luar mekanisme inti game.

Ini termasuk pengetahuan pengembang selama bertahun-tahun, interaksi pemain, diskusi komunitas, dan kenangan bersama yang terbangun seiring waktu.

Ia menyebutnya sebagai 'modal kontekstual' yang sulit direplikasi hanya dengan teknologi.

Sebagai contoh, konten buatan AI mungkin tampak akurat secara visual, tetapi seringkali kurang pemahaman mendalam yang berasal dari pengalaman bertahun-tahun dengan waralaba tertentu.

Kang menekankan bahwa AI memiliki batasan.

"Kecerdasan buatan bisa dibeli, tetapi kecerdasan yang terakumulasi hanya bisa diciptakan dengan waktu yang dihabiskan untuk membangun konteks," jelasnya.

Bunga Majemuk dalam Pengembangan Game

Selain konteks, Kang memperkenalkan konsep 'bunga majemuk' dalam pengembangan game. Ini merujuk pada bagaimana pengembang dan pemain membangun nilai dari waktu ke waktu.

>>> Akhir Cerita Oasis: Siapa Penculik Celia dan Apa yang Terjadi pada Helena?

"Pengembang menggunakan pengalaman dari game sebelumnya untuk meningkatkan kesempurnaan game berikutnya," kata Kang. "Pemain dapat membawa pengalaman bermain mereka ke luar platform...

menciptakan konten mereka sendiri."

Siklus perbaikan berkelanjutan dan keterlibatan komunitas ini menciptakan umpan balik yang memperkuat kesuksesan jangka panjang game.