Bank Mega Syariah memastikan pelemahan rupiah tidak mengendurkan kinerja pembiayaan komersial. Perseroan melihat masih banyak perusahaan yang ingin berekspansi sehingga membutuhkan modal.

Penguatan dolar AS memang menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati. Hal itu berpotensi memengaruhi biaya usaha, arus kas, serta kebutuhan modal kerja pelaku usaha.

in1

>>> Ratusan Warga Batam Pawai Dukung Keberlanjutan Program MBG

Namun, aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga dinilai masih membuka ruang pertumbuhan. Kebutuhan pembiayaan pada berbagai sektor strategis dinilai menjanjikan bagi industri perbankan syariah.

Pembiayaan Komersial Tumbuh 13,22%

Corporate & Business Banking Division Head Bank Mega Syariah, Guritno, mengatakan pihaknya tetap fokus mendorong pembiayaan pada sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap dinamika ekonomi global.

"Bank Mega Syariah melihat penguatan dolar AS sebagai salah satu dinamika global yang perlu dicermati.

Namun kondisi tersebut tidak mengurangi peluang pertumbuhan pembiayaan korporasi," ujar Guritno dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Hingga Mei 2026, outstanding pembiayaan komersial Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp5,7 triliun.

Secara tahun berjalan, nilai tersebut tumbuh 13,22% dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp5,17 triliun.

Kinerja pembiayaan komersial ditopang dua subsegmen utama.

Pembiayaan korporasi berkontribusi 43,76% dari total pembiayaan bank atau lebih dari Rp4,4 triliun, sedangkan Business Banking menyumbang 13,86% atau senilai lebih dari Rp1,4 triliun.

Guritno menjelaskan sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi. Kedua sektor itu dinilai memiliki fundamental kuat, kebutuhan stabil, serta prospek pertumbuhan positif.

>>> Sistem Pemanas Ini Paling Hemat Biaya, Ini Kata Ahli

Selain itu, Bank Mega Syariah melihat peluang pembiayaan pada sektor infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta berbagai sektor jasa lainnya.