Pemerintah Indonesia akan meluncurkan jenis bahan bakar baru, biosolar B50, pada 1 Juli 2026. Bahan bakar ini ditujukan untuk kendaraan penumpang dan niaga bermesin diesel.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari program biodiesel nasional yang sebelumnya telah menerapkan varian B35 dan B40.

in1

>>> Paraguay Kalahkan Turki 1-0 di Piala Dunia 2026, Gol Perdana Setelah 18 Tahun

Biosolar B50 mengombinasikan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dengan 50 persen solar fosil.

Komponen nabati yang digunakan umumnya berasal dari Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang dihasilkan dari minyak sawit.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki pasokan kelapa sawit melimpah, sehingga dinilai prospektif untuk diversifikasi energi.

Tantangan Teknis Biosolar B50

Guru Besar Bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, menjelaskan aspek teknis bahan bakar ini.

>>> Jerman vs Pantai Gading: Perebutan Puncak Grup E Piala Dunia 2026

Menurutnya, peningkatan porsi minyak nabati memengaruhi performa pembakaran.

"Biodiesel adalah bahan bakar alternatif terbarukan yang diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," ujar Nurkholis.

Biodiesel memiliki kandungan oksigen tinggi yang menguntungkan proses pembakaran. Namun, viskositas atau kekentalan campuran B50 lebih tinggi dibanding solar murni.

Viskositas yang pekat berisiko mengganggu atomisasi atau penyemprotan bahan bakar oleh sistem injeksi. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian teknologi pada komponen injeksi agar kualitas pembakaran tetap optimal.

>>> Maruarar Pastikan Bunga KPR Rumah Subsidi Tetap 5 Persen Meski BI Rate Naik

Dengan potensi pasokan minyak sawit yang besar, program biosolar B50 diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi impor bahan bakar fosil.