“Target produksi dan penjualan sekitar 54–58 juta ton cukup ambisius, namun masih bisa tercapai jika RKAB disetujui penuh dan peningkatan produksi pada kuartal II–III berjalan lancar,” ujar Wafi, Jumat (19/6/2026).

Sebaliknya, jika relaksasi RKAB kembali terlambat, target produksi berpotensi meleset 10%–15%.

in1

Sentimen lain yang memengaruhi kinerja GEMS adalah kebijakan ekspor SDA terpusat dan potensi revisi tarif royalti yang bisa menekan margin.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe menambahkan, dinamika harga batubara akan kembali memengaruhi kinerja GEMS secara signifikan.

“Harga minyak dunia sudah mulai turun seiring meredanya konflik geopolitik Timur Tengah dan bukan tidak mungkin harga batubara juga ikut turun karena statusnya sebagai komoditas energi subtitusi migas,” jelas Kiswoyo, Jumat (19/6/2026).

Ia menyarankan GEMS memperkuat efisiensi di segala lini usaha dan mempertahankan kemampuan produksi agar target tercapai. Risiko penurunan harga bisa dikompensasi dengan volume produksi dan penjualan yang tinggi.

>>> UE Terima Ratusan Ribu Pengungsi di Tengah Dorong Kebijakan Anti-Migrasi

Kiswoyo menyebut saham GEMS dapat dicermati investor dengan target harga wajar Rp 7.500 per saham.