Dari temuan survei LPI, kata dia, image transfer terjadi antara figur Jokowi dengan PSI yang dikabarkan bakal menjadi ketua dewan pembina.

Hasil survei terlihat bahwa rata-rata 70,2 persen masyarakat menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan kesan positif terhadap partai.

in1

Ia berpendapat citra positif itu pada akhirnya tidak hanya akan mengasosiasikan figur tersebut terhadap PSI, tetapi juga atribusi atau identitas lain yang muncul dari pandangan atau penilaian responden.

Dikatakan bahwa hal tersebut seperti persepsi publik terhadap figur Jokowi yang dikenal merakyat dan gaya kepemimpinannya yang unik dan khas.

>>> Hasil Babak Pertama Skotlandia Vs Maroko 0-1, Saibari Cetak Gol Kilat

Survei menunjukkan rata-rata 64,9 persen masyarakat menilai bahwa PSI merupakan partai yang merakyat seperti Jokowi.

Elektabilitas PSI Masih di Bawah Ambang Batas

Namun, di balik citra yang relatif positif, dia mengatakan survei LPI juga menemukan fakta yang kontras pada sisi elektabilitas.

Saat responden ditanyai pilihannya partainya jika pemilu dilaksanakan hari ini, PSI hanya memperoleh 1,9 persen suara nasional dari survei.

Selain itu, diperoleh bahwa PSI di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebesar 2,8 persen dan berselisih tipis dengan Partai Perindo yaitu 1 persen.

"Dengan kata lain, masih berada di bawah ambang batas parlemen (threshold) atau sebesar 4 persen (PT) suara nasional," tutur Fernando menjelaskan.

Dari pandangan responden, terlihat bahwa lima partai besar masih mendominasi peta elektoral nasional, yakni Gerindra 21,9 persen; PDI Perjuangan 19 persen; Golkar 8,1 persen; PKB 7,9 persen; dan PKS 4,7 persen.

Fernando menilai temuan itu menarik sekaligus menjadi paradoks yang harus dicermati lebih lanjut oleh PSI.