Pandangan terhadap esensi pernikahan mulai bergeser di kalangan generasi muda. Momen yang biasanya dirayakan secara megah kini dipertanyakan urgensinya.

Sebuah penelitian terhadap 2.000 responden Gen Z berusia 22 tahun ke atas mengungkap fenomena ini.

in1

>>> Harga Emas Antam 20 Juni 2026 Turun Menjadi Rp2.668.000 Per Gram

Sebanyak 69% dari mereka merasa perayaan pernikahan masa kini cenderung menjadi sebuah produksi atau pertunjukan besar.

Survei yang digarap oleh Talker Research untuk perusahaan teknologi keuangan Affirm ini menegaskan bahwa Gen Z tidak menolak ikatan pernikahan.

Mereka hanya mulai bersikap kritis terhadap ekspektasi sosial, beban biaya, serta tekanan psikologis yang menyertainya.

Ketika diminta mendeskripsikan budaya pernikahan modern dalam satu kata, istilah 'maha' menjadi jawaban yang paling mendominasi. Kata tersebut dipilih oleh 20% responden.

Tekanan finansial menjadi pemicu utama pergeseran paradigma tersebut.

Data menunjukkan sebanyak 75% responden merasa terbebani untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Kendati demikian, komitmen jangka panjang ini tetap dipandang krusial. Hanya ada 10% responden lajang yang menyatakan sama sekali tidak tertarik untuk menikah atau menggelar resepsi.

Perubahan besar justru terjadi pada format acara yang mereka impikan.

Sebanyak 40% responden mendambakan konsep perayaan yang sederhana dan intim, sementara hanya 19% yang masih menginginkan pesta besar berkonsep tradisional.

Mengenai tren yang paling diminati, para responden memilih elemen yang personal sebesar 31%.

Konsep hemat biaya atau DIY disukai oleh 30% responden, dan pembatasan jumlah undangan dipilih sebanyak 29% responden.

>>> BCA Finance Tawarkan Promo Bunga Mobil Baru 4 Persen, Tenor 5 Tahun

Alokasi dana pernikahan juga mulai dialihkan untuk investasi masa depan.