Kondisi ini berpotensi membuat calon pembeli menunda pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta memperketat penyaluran kredit dari perbankan.

"Valuasi sektor properti masih murah sehingga risk-reward atraktif, tapi rerating berkelanjutan kemungkinan baru terjadi bila bunga berbalik turun dan daya beli pulih secara nyata," kata Wafi.

in1

Sektor properti masih memiliki peluang dorongan positif dari perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen hingga tahun 2027.

Namun, pelaku pasar tetap harus mencermati risiko kenaikan beban bunga laba dan potensi keluarnya dana asing.

Di tengah tekanan sektor hunian, properti kawasan industri dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik.

Permintaan lahan untuk kebutuhan pusat data, logistik kendaraan listrik, serta pemindahan fasilitas produksi masih terjaga dengan kuat.

"Kenaikan suku bunga BI lebih menahan laju KPR residensial dalam jangka pendek. Namun, investasi asing (PMA) di kawasan industri minim dampak karena menggunakan pendanaan global," tutur Ester.

Muhammad Wafi menambahkan bahwa emiten dengan utang tinggi akan menghadapi tekanan beban bunga yang lebih besar seiring tingkat suku bunga BI di level 5,75 persen.

Keberlanjutan pemulihan sektor ini akan memerlukan bukti nyata dari peningkatan angka prapenjualan.

"Sentimen positif bisa dari insentif PPN DTP dan pipeline proyek di kuartal II. Sementara, sentimen negatif berasal dari rupiah lemah dan foreign outflow yang berlanjut," ungkapnya.

Sebagai strategi investasi, Muhammad Wafi menyarankan untuk fokus pada emiten properti yang memiliki pendapatan berulang yang kuat serta rasio utang terkendali.

David Kurniawan merekomendasikan opsi beli untuk saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Sementara itu, Ester Mulyani melihat PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) memiliki daya tarik di era suku bunga tinggi karena kinerjanya bertumpu pada segmen industri.

Dari sisi penilaian, emiten ini memiliki rasio PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah 1 kali.

"Dari valuasi, saham KIJA tergolong paling menarik di antara emiten kawasan industri dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali dan price to book value (PBV) di bawah 1 kali," paparnya.

Saham KIJA diperkirakan berpeluang melanjutkan tren penguatan menuju rentang harga Rp 220 hingga Rp 230 per saham.

>>> Pemprov DKI Siapkan Agenda Budaya Setahun Jelang HUT ke-500 Jakarta

Untuk target jangka menengah, pergerakan saham emiten kawasan industri tersebut diproyeksikan berada di kisaran Rp 250 sampai Rp 260 per saham.