"Kemudian, saham itu pun menjadi yang terkoreksi paling dalam sepanjang 2026, dengan tertekannya IHSG akibat freeze indeks MSCI, pelemahan rupiah yang sempat tembus Rp 18.000 per dolar AS, perang AS-Iran, dan kenaikan bunga BI," ujar Ester kepada Kontan, Kamis, 18 Juni 2026.

Hingga pertengahan tahun 2026, Bank Indonesia tercatat telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali hingga menyentuh angka 5,75 persen.

in1

Kenaikan instrumen moneter ini menjadi salah satu penahan utama laju pertumbuhan sektor properti residensial.

Ester menambahkan bahwa kapitalisasi pasar besar dari PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menjadi pemberat utama indeks tahun ini.

Di sisi lain, emiten berfundamental kuat cenderung stagnan karena mengalami de-rating struktural sejak tahun 2020.

"Pasar mendiskon ketidakpastian monetisasi land bank, ditambah bunga tinggi dan daya beli yang lemah," ungkapnya.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyebutkan adanya pengaruh dari perpindahan dana investor luar negeri.

"Sentimen pemberatnya adalah yang memiliki beban utang obligasi valas (dolar AS) tinggi serta risiko restrukturisasi utang," ujarnya kepada Kontan.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai pergerakan turun ini didorong oleh faktor sentimen serta koreksi teknikal setelah sempat menguat di awal tahun.

>>> Yamaha Pastikan Harga Suku Cadang Stabil di Jawa Barat Hingga Juni 2026

Masalah rasio utang terhadap modal yang tinggi dan melebarnya nilai discount to NAV turut membayangi kinerja sektor.

"Pemberat indeks di tahun ini berasal dari saham BSDE, CTRA, dan SMRA," ujarnya kepada Kontan.

Kebijakan suku bunga yang tinggi diproyeksikan akan memberikan dampak kurang menguntungkan dalam jangka pendek bagi sektor properti hunian.