Pembukaan Kembali Selat Hormuz Angin Segar Manufaktur Nasional
"Sekarang memang trennya turun karena harga energi lagi turun dan nanti kalau Selat Hormuz dibuka, pasokannya lebih banyak, akan mempercepat penurunan tadi," tuturnya kepada Bisnis.
Selain faktor tersebut, Fajar menilai pelemahan harga juga dipengaruhi kondisi pasar China yang tengah mengalami keterbatasan bahan baku sehingga mengurangi ekspor produk petrokimia ke pasar global.
Di pasar domestik, permintaan produk plastik disebut masih cukup baik.
Namun, sejumlah produsen memilih menurunkan utilisasi sementara waktu, untuk menghabiskan stok lama yang dibeli pada harga tinggi sebelum membeli bahan baku dengan harga baru yang lebih murah.
Menurutnya, harga bahan baku telah turun sekitar Rp4.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir.
Harga resin juga diperkirakan turun mendekati US$1.100 per metrik ton atau semakin dekat dengan level sebelum konflik.
"Artinya harga barang plastik lebih murah lagi dan makin dekat ke harga normal," katanya.
Meski prospek biaya produksi membaik, Fajar mengingatkan industri masih menghadapi tantangan lain, terutama ketersediaan feedstock dan keandalan pasokan listrik.
Pemadaman listrik yang lebih sering terjadi di sejumlah kawasan industri, khususnya di Jawa Timur, disebut telah menekan utilisasi pabrik karena proses produksi membutuhkan waktu berjam-jam hingga beberapa hari untuk kembali normal.
Dia berharap penurunan harga energi juga diikuti perbaikan keandalan pasokan listrik sehingga utilisasi industri dapat kembali meningkat.
“Dengan turunnya harga komoditi ini PLN bisa menjaga konsistensi dan stabilitas pasokan listrik," sebutnya.
Sementara itu, untuk mempercepat pemulihan daya saing manufaktur, Inaplas mendorong pemerintah menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan melalui pengawasan impor yang lebih ketat, khususnya terhadap produk plastik jadi.
“Impor bahan baku jadi plastik jangan sampai banjir. Bahan baku juga diamankan biar supply-demand bisa memberikan napas untuk pasokan lokal.
>>> Amerika Serikat vs Australia: Laga Krusial Grup D Piala Dunia 2026
Tapi yang jelas kali ini harga lokal jauh lebih murah daripada harga impor," tambah Fajar.
Update Terbaru
Mantan Bupati Lombok Timur Diperiksa sebagai Saksi Korupsi Lahan MXGP
Jumat / 19-06-2026, 19:56 WIB
Harga Minyak Brent Kembali ke Atas 80 Dolar AS Akibat Perundingan AS-Iran Batal
Jumat / 19-06-2026, 19:56 WIB
BPBD Catat 2.319 Rumah Rusak Akibat Gempa Bumi di Sigi, Sulteng
Jumat / 19-06-2026, 19:56 WIB
Coway Luncurkan Slim Stand, Pemurni Air dengan Teknologi Reverse Osmosis
Jumat / 19-06-2026, 19:56 WIB
Wabup Kolut Temui Mensos Bahas Pembangunan Sekolah Rakyat
Jumat / 19-06-2026, 19:55 WIB
OJK Perluas Izin Usaha PT Gadai Sakti Jakarta ke Tingkat Nasional
Jumat / 19-06-2026, 19:55 WIB
MSCI Soroti Hambatan Struktural Pasar Modal Indonesia, Transparansi Dinilai Memburuk
Jumat / 19-06-2026, 19:55 WIB
MAPPA Rilis Trailer Teaser Chainsaw Man: Assassins Arc dan Game Baru
Jumat / 19-06-2026, 19:52 WIB
Veda Ega Peringkat ke-15 pada Latihan Moto3 GP Ceko
Jumat / 19-06-2026, 19:52 WIB
IHSG Menguat 3,76% dalam Sepekan, Ditutup di Level 6.177
Jumat / 19-06-2026, 19:52 WIB
128 Atlet dari 12 Provinsi Ikuti Kejuaraan MMA Nasional di Bogor
Jumat / 19-06-2026, 19:50 WIB
Kemenhut dan Yayasan BOS Lepasliarkan 5 Orangutan ke TNBBBR Kalteng
Jumat / 19-06-2026, 19:50 WIB
Timnas Swiss Hajar Bosnia 4-1 di Piala Dunia 2026, Manzambi Jadi Bintang
Jumat / 19-06-2026, 19:50 WIB
MPR Dorong Kolaborasi Multipihak untuk Tingkatkan Literasi Nasional
Jumat / 19-06-2026, 19:48 WIB






