Otoritas Kesehatan Awasi Potensi Penyebaran Penyakit di Piala Dunia 2026

Otoritas kesehatan meningkatkan pengawasan terhadap potensi penyebaran penyakit menular selama turnamen Piala Dunia 2026.
Ajang yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 itu diperkirakan menarik lebih dari enam juta suporter.
>>> Polisi Tangkap Pria yang Tiga Kali Curi di Minimarket Tambora
Mobilitas tinggi dan kerumunan besar dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Rebecca Katz dari Health Security Operations Center di Georgetown University mengatakan setiap acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar selalu memiliki tantangan kesehatan.
"Acara dengan jumlah massa besar selalu rumit. Selalu ada ancaman penyakit menular yang menyertainya," ungkap Katz.
Pengawasan di Tiga Negara
Tim Katz memantau perkembangan berbagai penyakit di kota-kota tuan rumah, lokasi pemusatan latihan tim, hingga daerah asal para pelancong.
Pengawasan kali ini lebih kompleks karena turnamen berlangsung di tiga negara sekaligus.
"Ajang ini sangat rumit karena melibatkan tiga negara dan lebih dari 48 yurisdiksi berbeda, termasuk lokasi pemusatan latihan tim serta pergerakan orang di antaranya," ujarnya.
Penyakit yang dipantau meliputi infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, infeksi menular seksual, hingga penyakit yang tengah menjadi perhatian di kawasan Amerika Utara seperti campak, demam berdarah dengue, hepatitis A, dan mpox.
>>> Robertson Ingin Skotlandia Ciptakan Sejarah di Piala Dunia 2026
Katz menyebut campak menjadi salah satu fokus utama karena kasusnya ditemukan di ketiga negara tuan rumah. "Yang paling menjadi perhatian saat ini adalah campak.
Kami telah melihat kasusnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko," jelasnya.
Situasi tersebut terus dipantau, terutama di wilayah yang akan menjadi lokasi pertandingan maupun tempat tim nasional bermarkas.
Sementara itu, wabah Ebola yang masih terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Uganda juga masuk dalam pemantauan.
Namun, risiko penyebaran virus Ebola saat Piala Dunia 2026 dinilai masih rendah.
"Melihat cara penularan Ebola dan langkah-langkah pengendalian yang sudah diterapkan, kami tidak terlalu khawatir penyakit ini menjadi ancaman bagi masyarakat di sini," kata Katz.
Untuk mendeteksi potensi wabah lebih dini, tim kesehatan memanfaatkan teknologi pemantauan air limbah (wastewater monitoring). Metode tersebut memungkinkan petugas menemukan jejak patogen sebelum kasus meluas.
>>> Pemprov NTB Jamin Regulasi Ramah Investor untuk Industri Udang
"Ini merupakan sumber data pengawasan yang sangat kuat. Jika ada satu kasus Ebola sekalipun, kami bisa menemukannya," lengkap Katz.
Update Terbaru
Oppo Reno 16 Series Resmi Meluncur di Indonesia pada 3 Juli 2026
Jumat / 19-06-2026, 18:16 WIB
Amar Bank Catat Pertumbuhan Kredit Digital 30,62% di Tengah Persaingan Ketat
Jumat / 19-06-2026, 18:16 WIB
Arsenal vs Coventry City Buka Liga Inggris 2026/2027
Jumat / 19-06-2026, 18:15 WIB
Rusia Klaim Temukan Bukti Baru Pengembangan Senjata Biologis Ukraina
Jumat / 19-06-2026, 18:12 WIB
Dokter: Bayi Prematur Lebih Berisiko Alami Gangguan Ginjal
Jumat / 19-06-2026, 18:12 WIB
Persija Jakarta Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru, Target Juara Musim 2026/2027
Jumat / 19-06-2026, 18:12 WIB
Kepala BNPB Turun Langsung ke Lokasi Gempa Sulteng, Bantuan Disalurkan
Jumat / 19-06-2026, 18:10 WIB
Suporter Meksiko dan Korea Selatan Tunjukkan Kehangatan di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 18:10 WIB
Kate Middleton Hadiri Royal Ascot 2026 dengan Gaun Kuning Lemon Daur Ulang
Jumat / 19-06-2026, 18:10 WIB
Hyundai Kona Generasi Ketiga Hadir dengan Desain Kotak pada 2028
Jumat / 19-06-2026, 18:08 WIB
Lenovo ThinkPad Siap Hadapi Kondisi Ekstrem Berkat Standar Militer dan AI
Jumat / 19-06-2026, 18:08 WIB
Studi: Makanan Ultra-Olahan pada Balita Turunkan IQ Anak
Jumat / 19-06-2026, 18:08 WIB
Sinopsis Speed Racer, Bioskop Trans TV 19 Juni 2026
Jumat / 19-06-2026, 18:08 WIB
OPPO Reno16 Pro Series Hadir dengan Model Pro Mini dan Reno16c di India
Jumat / 19-06-2026, 18:08 WIB






