>>> 3 Drama Korea Favorit Penonton Lokal di Korea Selatan

Faktor yang Harus Diwaspadai

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede juga menilai kesepakatan damai AS dan Iran membawa prospek positif bagi APBN.

in1

Hanya saja, situasi ini tidak langsung meringankan beban subsidi energi dalam sekejap.

Josua menyebutkan tiga faktor yang harus diwaspadai pemerintah terkait subsidi. Pertama, harga minyak internasional membutuhkan waktu untuk turun.

Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah karena harga energi impor dihitung dengan dolar AS.

Faktor ketiga adalah volume konsumsi barang bersubsidi seperti Pertalite, Solar, LPG 3 kg, dan listrik. Kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong masyarakat untuk beralih mengonsumsi Pertalite.

Josua memandang target ICP US$70 per barel sudah tidak realistis lagi karena rata-rata tahun berjalan telah melewati US$91 per barel.

Rata-rata ICP Juni-Desember harus berada di sekitar US$54 per barel untuk kembali ke target awal.

Kondisi tersebut hanya bisa terjadi jika permintaan global merosot tajam atau ada kelebihan pasokan yang besar.

Josua memproyeksikan rata-rata ICP sepanjang tahun berpotensi mendekati US$80-US$85 per barel jika paruh kedua berada di kisaran US$70-US$80 per barel.

Dampak kesepakatan damai ke APBN dinilai lebih parsial untuk menambah belanja kompensasi, memperkecil penyesuaian harga energi, dan mengurangi defisit.

Pemerintah disarankan tidak terburu-buru menambah belanja baru yang bersifat permanen.

"Risiko yang perlu diantisipasi adalah pemerintah terlalu cepat merasa memiliki ruang fiskal baru.

Jika penurunan harga minyak hanya sementara, sementara pemerintah menambah belanja permanen, maka APBN justru bisa kembali tertekan ketika harga minyak naik lagi," jelas Josua kepada Bisnis.

Momentum ini sebaiknya digunakan untuk memperbaiki kualitas belanja dan mempercepat reformasi subsidi energi guna memberikan sentimen positif bagi investor di pasar keuangan.