Momentum ini juga dimanfaatkan Trump untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu November.

Selama empat bulan terakhir, blokade dan konflik menyebabkan ekspor minyak Teluk merosot hingga 15 juta barel per hari.

in1

Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 60 persen dari volume pada Februari.

Harga minyak mentah acuan sempat menyentuh angka US$126 per barel akibat konflik ini. Kenaikan tidak berlanjut karena adanya pelepasan cadangan darurat dan penurunan permintaan global.

Kerusakan infrastruktur akibat serangan Iran diperkirakan mencapai US$42 miliar berdasarkan data konsultan Rystad Energy. Perbaikan beberapa unit kilang diprediksi membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

Analis dari perusahaan pialang kapal E. A.

Gibson mencatat lebih dari 100 kapal tanker bermuatan minyak sempat terjebak di Teluk Persia.

Proses menghidupkan kembali enam pabrik penyulingan terbesar di wilayah itu melibatkan kapasitas 1,4 juta barel per hari yang sempat mati.

Irak menjadi salah satu negara yang menghadapi kendala teknis dalam pemulihan ini.

>>> Simulasi UMP DKI Jakarta 2026: Kelola Gaji Rp5,7 Juta untuk Bangun Tabungan

Penutupan sumur yang terlalu lama menyebabkan penyumbatan zat parafin, meskipun produksi di Basra mulai menunjukkan kenaikan 500.000 barel per hari.

"Memulihkan pasokan dalam skala sebesar ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Fraser McKay, kepala analisis hulu di konsultan Wood Mackenzie.

Fraser McKay memperkirakan bahwa 70 persen dari produksi sebelum perang dapat dikembalikan dalam waktu tiga bulan. Sementara itu, 90 persen produksi diproyeksikan pulih dalam waktu enam bulan.

"Akan ada kejutan menyenangkan bagi para produsen tetapi juga kemunduran," ucap Fraser McKay.

Pembukaan jalur ini diproyeksikan menurunkan harga minyak yang berada di kisaran US$79 pada Kamis. Penurunan harga berpotensi mendorong pasar kembali ke kondisi surplus pasokan.