General Motors (GM) memasang sekitar 50 robot kolaboratif baru di pabrik Factory Zero, Amerika Serikat. Robot buatan Fanuc ini akan membantu perakitan komponen kendaraan di jalur produksi.

Langkah modernisasi otomasi ini menuai sorotan.

in1

>>> Transvision Tawarkan Diskon hingga 20 Persen dengan Allo Paylater

Sebab, pemasangan robot dilakukan hanya beberapa pekan setelah perusahaan merumahkan lebih dari 1.000 pekerja di fasilitas tersebut.

Presiden UAW Local 22 James Cotton mengonfirmasi pemasangan robot tersebut. Menurutnya, kehadiran mesin pintar ini berpotensi meringankan beban kerja karyawan yang tersisa.

"Selalu ada kekhawatiran ketika robot masuk ke pabrik, terutama setelah lebih dari seribu pekerja dirumahkan," ujar Cotton.

Serikat pekerja UAW telah melayangkan protes resmi kepada manajemen GM. Mereka khawatir soal keselamatan kerja karena robot beroperasi sangat dekat dengan buruh.

Manajemen Bantah Robot Ancam Pekerja

Manajemen GM menegaskan langkah ini adalah strategi penting untuk memodernisasi pabrik. Juru bicara GM Kevin Kelly menyatakan teknologi tersebut meningkatkan keselamatan, ergonomi, dan daya saing.

>>> Banten dan Kementerian P2MI Teken MoU Perlindungan Pekerja Migran

Factory Zero sebenarnya difokuskan memproduksi kendaraan listrik (EV). Namun, penurunan permintaan EV di AS memaksa GM menghentikan produksi beberapa kali dan mengurangi tenaga kerja.

Pakar hubungan industrial dari Wayne State University, Marick Masters, mengatakan otomatisasi telah mereduksi kebutuhan jam kerja produksi kendaraan 50-70 persen dibanding era 1980-an.

Persoalan ini diproyeksikan menjadi materi krusial dalam negosiasi kontrak GM-UAW pada 2028.

Presiden UAW Shawn Fain memandang ekspansi AI dan robot humanoid sebagai ancaman riil bagi masa depan kerja. "Kita menghadapi salah satu revolusi teknologi paling besar.

>>> Honda dan QuantumScape Jalin Kerja Sama Kembangkan Baterai Solid-State

Ini tantangan serius bagi ekonomi dan sistem sosial," kata Fain.