General Motors (GM) dikabarkan akan meninggalkan rencana produksi baterai lithium-iron phosphate (LFP) untuk kendaraan listriknya di Amerika Serikat.

Sebagai gantinya, raksasa otomotif asal Detroit itu akan fokus pada baterai lithium manganese-rich (LMR) yang lebih murah dan efisien.

>>> Ford Recall 548.000 SUV karena Trim Krom Melukai 65 Orang

Kepala baterai GM, Kurt Kelty, menyebut LMR sebagai "kuda beban" bagi GM.

Menurutnya, baterai LMR memiliki biaya produksi yang hampir sama dengan LFP, namun mampu menyimpan lebih banyak energi dengan bobot yang setara.

"Ada kemungkinan LFP tidak masuk ke dalam portofolio kami," ujar Kelty kepada Reuters. "Di situlah kami akan menggunakan volume besar."

Harga Lebih Murah, Jarak Tempuh Sama

GM awalnya berencana memproduksi baterai LMR bersamaan dengan LFP di pabrik Tennessee bersama LG Energy Solution.

Namun, pabrik tersebut kini hanya akan memproduksi LFP untuk pelanggan grid dan pusat data, bukan untuk mobil.

>>> BYD Bangun Jaringan Pengisian Cepat di Kanada Sebelum Mobilnya Dijual

Dengan fokus pada LMR, GM mengklaim Chevrolet Silverado EV yang saat ini menggunakan baterai NMC bisa mengadopsi LMR dengan ukuran dan bobot serupa.

Hasilnya, jarak tempuh 400 mil tetap terjaga, namun biaya produksi turun setidaknya $6.000 atau sekitar Rp96 juta.

Kelty menambahkan bahwa baterai NMC akan dibatasi untuk kendaraan GM kelas atas, sementara LMR akan menjadi tulang punggung model yang lebih terjangkau.

"Itu benar-benar akan menjadi produk utama kami," katanya.

GM bukan satu-satunya pabrikan yang mengembangkan LMR. Pesaing sekota, Ford, juga melakukan hal serupa.

>>> Diskon Maserati Grecale EV Capai Rp300 Juta, Tapi Masih Terasa Mahal

Langkah ini menandai perubahan strategi baterai yang signifikan di industri otomotif AS.