Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat berpotensi bergerak volatil. Pergerakan ini dipicu oleh berbagai kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri.

Pada pembukaan perdagangan Jumat, IHSG melemah 10,88 poin atau 0,18 persen ke posisi 6.161,46.

in1

>>> WALOVI Perluas Distribusi di Singapura Lewat Kemitraan dengan Hong Xin Da

Indeks LQ45 juga turun 2,37 poin atau 0,38 persen ke posisi 614,55.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyarankan investor untuk memonitor level support terdekat di 6.055.

Ia juga memantau potensi break out yang bisa mendobrak neckline 6.300 demi menciptakan pola bullish reversal inverted head and shoulders.

Sentimen Domestik dan Global

Dari dalam negeri, MSCI untuk pertama kalinya secara eksplisit menurunkan skor Information Flow Indonesia dari "+" menjadi "-".

Hal ini dikaitkan dengan isu transparansi kepemilikan saham, free float, serta coordinated trading behavior yang mengganggu price discovery.

Menurut Liza, laporan tersebut merupakan sinyal peringatan.

Jika isu tata kelola pasar, transparansi free float, dan kualitas pembentukan harga tidak membaik, maka discount valuation Indonesia berpotensi bertahan lebih lama dan menjadi alasan dana asing enggan kembali masuk secara agresif.

Investor masih menantikan pengumuman selanjutnya, yaitu MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6) pekan depan.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75 persen, menandai kenaikan ketiga dalam waktu sekitar satu bulan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan inflasi.

Dari mancanegara, sentimen pasar ditentukan oleh dua kekuatan yang saling berlawanan.

>>> MSCI Turunkan Peringkat Arus Informasi Pasar Saham Indonesia

Di satu sisi, kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang ditandatangani di Versailles, Prancis, mendukung risk appetite, menurunkan harga energi, dan mengurangi risiko gangguan pasokan global.