Penerapan kemampuan berpikir komputasional kini didorong untuk dimulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Langkah ini diharapkan mendukung capaian PISA Indonesia.

Komitmen tersebut memerlukan sinergi kuat antara guru, sekolah, dan pemangku kebijakan. Kapasitas pendidik menjadi faktor krusial karena metode ini berfokus pada pembentukan pola pikir logis dan sistematis.

in1

>>> Minum Jamu Kunyit Asam Kurangi Nyeri Menstruasi, Kenali Penyebab Kram Rahim

Tantangan dan Langkah Taktis

Saat ini, belum tersedia panduan nasional khusus mengenai berpikir komputasional untuk tingkat prasekolah.

"Implementasi kemampuan berpikir komputasional membutuhkan kapasitas guru yang mumpuni dalam memahami konsep ini," ujar Irma Yuliantina, peneliti dan dosen PAUD di Universitas Panca Sakti Bekasi.

Langkah taktis yang diajukan mencakup integrasi menyeluruh, mulai dari perumusan regulasi hingga praktik pembelajaran kreatif oleh guru di kelas.

Proses ini dapat diterapkan melalui aktivitas sehari-hari tanpa ketergantungan pada gawai.

>>> Harga Perak Melonjak Akibat Defisit Pasokan Global

Pemerintah juga tengah mengupayakan penguatan kurikulum melalui penyelarasan regulasi. Transformasi ini diharapkan memperkokoh dasar keterampilan berpikir anak sebelum memasuki sekolah dasar.

Kurniawan, Direktur PAUD Kemendikdasmen, menyatakan bahwa saat ini Kemendikdasmen bersama DPR sedang membahas RUU Sisdiknas.

RUU tersebut antara lain memuat usulan Wajib Belajar 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan prasekolah.

>>> Kanada Hajar Qatar 4-0, Diwarnai Cedera Patah Kaki dan Dua Kartu Merah

Sejalan dengan penguatan keterampilan abad ke-21, integrasi berpikir komputasional pada jenjang PAUD dikenalkan melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.