Perusahaan bahan bakar nuklir asal Amerika Serikat, Standard Nuclear, resmi mengajukan penawaran umum perdana saham (IPO) di New York Stock Exchange pada Kamis (18/6) waktu setempat.

Langkah strategis ini diambil guna memenuhi kebutuhan pendanaan operasional dan ekspansi bisnis di tengah kebangkitan industri energi nuklir global.

in1

>>> GM Tambah 50 Robot di Pabrik Usai PHK Lebih dari 1.000 Pekerja

Aksi korporasi ini merefleksikan peningkatan minat investor terhadap sektor energi nuklir domestik yang didorong oleh lonjakan kebutuhan energi serta dukungan regulasi pemerintah federal.

Pendanaan Awal dan Dukungan Investor

Standard Nuclear sebelumnya telah mengamankan pendanaan awal sebesar 140 juta dolar AS yang dipimpin oleh Decisive Point.

Putaran pendanaan awal tersebut juga melibatkan beberapa investor raksasa dari Silicon Valley, termasuk Andreessen Horowitz dan Chevron Technology Ventures.

Keterlibatan modal ventura papan atas ini menandakan perluasan fokus investasi teknologi ke arah sektor energi bersih berbasis nuklir.

Kebangkitan industri ini turut dipicu oleh kebijakan Presiden Donald Trump pada Mei 2025 melalui perintah eksekutif yang mempercepat pengembangan reaktor baru dan memperkuat rantai pasok domestik.

Momentum pasar modal untuk sektor ini juga terlihat dari melantainya pengembang reaktor X-Energy pada April lalu dengan himpunan dana sebesar 1,02 miliar dolar AS, disusul oleh Deep Fission yang menjadi perusahaan publik pekan ini.

>>> Saham BBCA Anjlok 3,19% ke Rp 6.075, Analis Tetap Rekomendasikan Buy

Sebagai produsen independen satu-satunya untuk bahan bakar TRISO di Amerika Serikat, Standard Nuclear memproduksi sistem tenaga berbasis radioisotop yang digunakan pada reaktor generasi berikutnya.

Selain pembangkit listrik sipil, produk perusahaan ini juga dialokasikan untuk sektor pertahanan, kedirgantaraan, dan aplikasi luar angkasa.

Dalam dokumen resmi penawaran sahamnya, Standard Nuclear mencatatkan pertumbuhan pendapatan menjadi sebesar 593.802 dolar AS untuk kuartal yang berakhir pada 31 Maret 2026.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan perolehan pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 377.926 dolar AS.

Manajemen perusahaan hingga kini belum mengumumkan target emisi total atau jumlah dana spesifik yang dibidik melalui aksi korporasi ini.

>>> MSCI Pertahankan Indonesia di Emerging Market, Hindari Penurunan Status

Rencananya, saham perusahaan akan diperdagangkan dengan kode emiten STDN di bawah penjaminan emisi dari BofA Securities, Goldman Sachs, Barclays, dan UBS Investment Bank.