>>> Argentina Ungguli Aljazair 1-0 Berkat Gol Messi di Piala Dunia 2026

"Pada kasus seperti ini penderita mengalami kondisi yang bisa menyebabkan gangguan pelistrikan jantung. Apalagi ketika melakukan aktivitas yang ekstrem," ujar Andik.

in1

Kelainan HCM ini kerap tidak memunculkan gejala klinis, sehingga sebagian besar penderita tidak menyadari ancaman tersebut sebelum berlari.

Namun, Andik menekankan bahwa kondisi fatal ini dapat diantisipasi melalui pemeriksaan kesehatan seperti elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi sebelum memulai latihan beban panjang.

"Ini sebenarnya bisa dicegah karena sangat mudah dideteksi kalau kita melakukan screening sebelum orang memulai pelatihan untuk mengikuti aktivitas long run," kata Andik.

Bagi kelompok pelari di atas usia 35 tahun, ancaman kematian terbesar bersumber dari penyakit jantung koroner atau atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD).

Selain EKG dan ekokardiografi, kelompok usia senior ini sangat direkomendasikan untuk menjalani tes treadmill atau stress test demi mengukur batas aman beban fisik jantung.

Pihak medis mengingatkan agar para pelari tidak mengandalkan intuisi atau perasaan pribadi dalam menilai kesiapan fisik mereka.

Skrining kesehatan yang objektif harus menyertai popularitas olahraga lari saat ini demi meminimalkan risiko fatal.

"Tes, don't guess. Diperiksa, bukan diterka.

Diperiksa, bukan diduga. Diperiksa, bukan dirasa-rasa," ujar Andik.

Kesadaran melakukan pemeriksaan medis berkala memegang peranan krusial bagi keselamatan semua pelari tanpa memandang faktor usia.

>>> Kemenkes Peringatkan Bahaya Penularan Campak saat Libur Lebaran 2026

"Usia muda tidak berarti pasti aman, dan usia lanjut tidak berarti pasti berbahaya. Yang penting adalah melakukan screening dengan baik dan memahami kondisi tubuh masing-masing," kata Andik.