"Ketika memikirkannya, saya juga teringat Carlos Sainz ketika dia kehilangan kursinya karena Hamilton. Bagaimanapun, dia adalah juara dunia tujuh kali.

>>> Menko Polkam Minta Daerah Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla

Tidak ada yang bisa saya lakukan. Jadi situasi ini kurang lebih sama," tegas Martin.

Martin menilai nama besar Marquez memiliki pengaruh yang sangat kuat sehingga ia tidak mampu membendung keputusan tersebut meski saat itu tengah memimpin klasemen kejuaraan.

"Marquez adalah satu-satunya pebalap yang bisa menghalangi saya bergabung dengan tim pabrikan.

Nama Marquez memiliki bobot yang sangat besar, dan jika dia menginginkan motor itu, dia akan mendapatkannya," tutur Martin.

Kepastian mengenai akhir kebersamaannya dengan Ducati mulai disadari sepenuhnya oleh Martin saat gelaran GP Italia 2024 berlangsung.

"Saat itu saya memimpin kejuaraan dengan selisih 40 poin. Hanya itu hal yang bisa saya kendalikan.

Tapi ada faktor lain yang tidak bisa saya lawan," lanjut Martin.

Momen di Sirkuit Mugello tersebut pada akhirnya justru mengubah pendekatan balapnya menjadi lebih lepas hingga ia berhasil mengunci gelar juara dunia bersama tim satelit.

"Keputusan atau momen di Mugello 2024 itu membantu saya untuk berkata: 'Oke, ini sudah selesai. Saya akan ke Aprilia.

Terserahlah. Ayo, mari tampil habis-habisan musim ini.'

>>> Komisi XIII DPR Minta Harmonisasi Regulasi Pendidikan Dokter

Dan berkat hal itu, saya berhasil memenangkan kejuaraan," ucap Martin.